Menulis Karena Gelisah Terhadap Sesuatu..

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Alimnya Tingkah Polah SPG di Aceh

Hanya di Aceh anda akan menemukan sekawanan SPG (Sales Promotion Girl) mengucapkan "Assalamualaikum" saat mendatangi tumpuk demi tumpuk kerumunan orang yang nongkrong di warung kopi untuk menawarkan racun (baca-rokok) keluaran terbaru. Dalam kondisi tubuh setengah menungging mereka meminta sedikit waktu pada para jamaah warung kopi, "Assalamualaikum, permisiiii." Ucapan itu terdengar yang dibarengi dengan kulum senyum lima senti kiri lima senti kanan dari bibir sexy bergincu menyala yang aduhai membekas di hati. Lalu dengan sedikit menunduk, "Aabang perokok? Oya, ini kami lagi ada produk terbaru bla, bla, bla.. terimakasih bang, permisiii.!" Begitulah gambaran umumnya.
Ilustrasi photo: Temuan dari Internet
Ya, fonemena di kehidupan berpolitik sekarang juga demikian, untuk membuat orang lain mau menerima sesuatu yang buruk, akan lebih cepat diterima dan didengar orang banyak kalau sekiranya sesuatu yang buruk itu dibungkus dengan kata-kata terpuji bin mulia, apalagi menyebut-nyebut nama Tuhan. Memulainya dengan mengucapkan kata-kata yang terpuji, semisal bismillah (pokoknya kata-kata yang ada llah-llah-nya diujung), atau mengekploitasi ayat-ayat Tuhan dalam membuat penciteraan politik.
***
Usai menawarkan produk dan melakukan promo rokok, para SPG jelita itu berlalu dengan meninggalkan bau tubuh yang harum dan beberapa potong senyum yang susah dilupakan oleh lelaki tulen. Hingga membuat para pengunjung warungkopi melongo seiring para SPG itu jalan melenggak dengan sepatu haknya, menuruni tangga demi tangga warung yang hanya tiga tangga saja, lalu masuk dalam mobil. Kehadiran mereka benar-benar membuat yang beristeri lupa sama bini, yang berpacar lupa sama doi. Tapi nuansa itu durasinya hanya sesaat, semuanya hilang setelah mobil yang membawa para SPG melesat membelah jalan kembali ke sarangnya.
Share:

Belajar Mendeskripsi

Di seputaran Darussalam-Banda Aceh ada satu lapak jualan tempe goreng paling enak menurut saya. Yang jualannya itu bapak-bapak, biasanya dalam berjualan si bapak ditemani seorang bocah laki-laki yang dipercayakan sebagai kenek. Menurut saya, tempe goreng hasil racikan bapak ini mampu menggantikan cemilan anda dari yang biasanya, ya kalau memang cemilan yang anda gemari selama ini tempe goreng bukan yang lain. Mungkin anda sudah terbiasa dengan memakan tempe goreng yang wujudnya seperti kerupuk, kaku dan terdengar seperti jembtan kayu lapuk yang hancur ketika dikunyah. Tapi kalau yang ini tidak, bisa saya pastikan yang anda kunyah memang benar-benar potongan tempe goreng renyah. Pastinya tidak akan membuyarkan konsentrasi anda ketika mengunyah untuk berpikir; oh ini kerupuk tapi versi tempe. Oya lokasi bapak berjualan di seputaran Darussalam; kalau dari arah simpang galon, itu sebelum Bank BRI cabang Darussalam.

Tetapi ini hanya sebuah gambaran atau ilustrasi betapa rasa puas atau kesan itu mampu mendorong seseorang untuk berbicara banyak dan jujur-jujuran. Bapak penjual tempe tidak meminta dan membayar saya untuk mempromosikan lapak gorengan tempenya lewat postingan ini. Bagi saya tempe goreng racikan si bapak enak, renyah dan saya merasa terkesan dengan cita rasanya. Itulah yang mendorong saya untuk menulisnya.

Ilustrasi lain. Mungkin semenjak media sosial Facebook booming dan akrab dengan pengguna internet, tentunya anda sudah pernah atau bahkan sering membaca postingan-postingan yang berisikan testimoni orang-orang yang bahagia setelah melangsungkan pernikahan. Mari kita lihat lagi betapa kekuatan rasa dan kesan itu mampu mendorong seseorang untuk berbicara banyak dan jujur. Coba kita lihat orang-orang yang bahagia dan merasa terkesan dengan pernikahannya itu. Dengan tanpa diminta dan tanpa kita traktir kopi untuk diajak bicara, salah seorang dari mempelai mau berbagi cerita panjang lebar dan detail tentang kronologis pernikahan mereka sejak niat melangsungkan pernikahan mau direncanakan hingga setelah hari H. Yang mungkin kalau salah seorang mempelai kita ajak ngopi sambil bercerita, mungkin tiga jam waktu kita habiskan di warung kopi belum tentu bisa kita peroleh sebuah cerita, jujur-jujuran dan pengakuan yang begitu runut. Saya menemukan beberapa tipe orang yang pendiam sebelum menikah dan berubah menjadi tipe pengomong (di medsos) setelah baru-baru melangsungkan pernikahan karena sebuah kesan.

Oleh karenanya hati-hatilah dengan rasa dan kesan yang, dia mampu mendorong seseorang untuk buka mulut dengan tanpa diminta apalagi dipaksa-paksa. Saya menulis tentang tempe goreng karena saya sudah kelewat puas dan merasa terkesan dengan hasil racikan tempe goreng yang renyah, bikinan bapak yang buka lapak di pinggir jalan Darussalam. Ini menandakan saya belum mampu mengendalikan rasa, hingga kekuatan (kesan) tempe goreng renyah saja mampu mendorong saya untuk berbicara banyak tentangnya (tempe goreng)
Share:

Makna Warung Kopi di Aceh

Keberadaan warung kopi di Aceh mempunyai tempat istimewa di setiap relung hati para pengunjung warung kopi langganan masing-masing. Fenomena menjamurnya warung kopi dan banyaknya para jamaah warung di Aceh tidak boleh dilihat sinis dikarenakan warung kopi sudah menjadi tempat mengambil kembali semangat atau ruh seorang manusia yang barangkali masih tercecer di atas tempat tidur dari semalaman. Duduk di warung kopi merupakan proses meditasi sambil minum-minum dalam memanggil kembali semangat hidup untuk menantang hari ini.

Jep Kupi Nak Bek Pungoe
Minum Kopi Supaya Tidak Gila
Pagi hari, tak terkecuali baik pemuda maupun orang tua, berseragam atau tidak, yang pekerja kantor maupun pengangguran, seiring matahari merangsek naik mereka keluar menuju warung kopi langganan masing-masing guna menenggak segelas cairan kopi yang ditemani beberapa kerap roti selai dan penganan-penganan lain. Aktivitas yang beginian di Aceh dinamakan "Ngopi". Ngopi tak berarti setiap orang yang duduk di warung kopi semuanya akan menenggak dan cairan yang berisi kopi. Ada juga yang menenggak teh, teh hijau, dan minuman lain, level paling tinggi menenggak es kosong. Lalu kenapa harus istilah Ngopi? Kata ngopi sudah lebih dulu memonopoli warung kopi di Aceh. Sama seperti air mineral bermerek 'Aqu*' lebih dulu memonopoli pasar. Di Aceh, mau sampeyan beli air mineral apapun sampeyan akan menyebut merek tersebut, karena kalau tidak yang punya kios akan bingung. Di warung kopi, mau ada minum atau duduk nikmatin wifi gratis gak minum apa-apa, sebutannya tetap lagi ngopi.

Orang-orang di sini, sambil mereka ngopi pagi ada banyak sekali hal yang sering mereka lakukan di warung kopi. Semisal melanjutkan diskusi final AFF semalam yang sempat terpotong akibat yang punya warung mengusir mereka pulang karena mau tutup. Nah ngopi pagi dimanfaatkan kembali untuk menyambung obrolan soal kemenangan timnas Indonesia atas Thailand. Bagi yang penggila aksi tikang-tikung Moto GP, mereka bergantian berkomentar soal momen-momen cantik yang terjadi di sirkuit balapan paling bergensi itu. Bagi yang bermental optimis dan keseringan ngikutin tayangan motivasi di TV yang bertemakan: Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini/ Nothing Impossible; Buat mereka yang golongan ini, mereka asik berandai-andai, berangan-angan mungkin tidak ya kita akan mendengarkan lagu Indonesia Raya bergema di piala dunia?

Warung kopi akan menjadi tempat yang religius ketika para pengunjungnya berbicara tentang agama, fanatisme, aksi bela islam jilid sekian atau 212. Menjadi panggung pertunjukan ketika warung tersebut banyak diisi oleh para pekerja seni dengan berbagai aliran seni. Warung kopi di Aceh serasa gedung DPRA dan para pengunjungnya adalah para anggota dewan ketika di warung itu banyak orang (syik putik tuha muda) bicara bicara soal kebijakan-kebijakan politik sampai mengernyit jidat, tegang urat leher karena bertekak terkait jagoan politik masing-masing. Membuka obrolan seperti; soe yang harus ta toep kali nyoe/ siapa yang harus kita coblos kali ini kerap kali menjadi basa-basi perjumpaan ala warung kopi. Atau saat mereka coba "menggariskan" peta politik jelang Pilkada Aceh, maka warung itu sudah menjadi tempat office center-nya para tim pemenangan jagoan politik yang maju dalam kontestasi politik di Aceh.
Share:

Nonik


Sumber photo: Acehtrend


Cerpen ini sudah pernah dimuat di situs berita online: Acehtrend edisi Sabtu/ 29/04/2017.

Dua bulan sudah hidup menjanda, ibu si Nonik kembali mendapat ujian berat, pasalnya anak gadis semata wayang pergi meninggalkannya menghadap yang Maha Kuasa. Setelah sebelum itu Tuhan juga telah mengajak pergi suaminya, Badrun pergi ke tempat yang sama. Ibu si Nonik belum begitu ikhlas menerima kenyataan atas dua ujian berat tersebut, terlebih lagi setelah kepergian anak gadis satu-satunya itu yang bernama lengkap Nonik Manik. “Tidak Rela” itulah dua kata yang tergambar dari keseharian ibu si Nonik yang menjalani hidup tak bersemangat dan berwajah murung juga pucat pasi. Hingga suatu ketika, sikap ketidakrelaan yang melekat kuat pada ibunya membuat mendiang Nonik Manik yang telah tiada merasa diusik di tempat peristirahatan sana.
“Nikahilah dia untukku, Bu!”
Kalimat itu yang terus membayangi ibu si Nonik. Ini bukan pertama kalinya Nonik Manik meminta hal yang sama. Sudah berminggu-minggu permintaan itu dia sampaikan pada ibunya. Namun, belum juga diperoleh jawaban yang pasti dari sang ibu. Padahal permintaan serupa juga telah disampaikan Nonik dengan penuh harap pada seorang lelaki. Ya, permintaan yang serupa. Nonik juga meminta lelaki itu untuk menikahi ibunya. Namun alhasil masih saja sama, lelaki itu pun tidak memberikan jawaban sampai hari ini. Dia masih menimbang-nimbang soal serius atau tidak permintaan itu.
Bagaimana tidak, ini permintaan yang sangat sulit diputuskannya. Permintaan bahkan datang dari orang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Nonik Manik memintanya untuk menikahi ibunya. Ini sedikit membingungkan bagi lelaki yang kesehariannya menghabiskan waktu di bengkel sepeda motor. Menikah lagi bukan lah perkara yang mudah, terlebih wanita itu adalah ibu si Nonik. Mesti berpikir lebih dari seribu kali untuk mengambil keputusan. Ini sungguh sangat membuatnya bimbang. Permintaan itu antara nyata atau tidak, jelas telah benar mengusik ibu Nonik dan lelaki pekerja bengkel.
“Permintaan ini sungguh nyata, Bu!”
Nonik Manik kembali lagi dengan penegasan yang lebih tegas. Seakan-akan dia tahu benar bahwa ibunya dan lelaki bengkel itu masih menyimpan kebingungan yang luar biasa. Namun, semakin tegas dia berucap, maka semakin dalam kebimbangan tertancap. Baik ibu maupun lelaki bengkel itu sama sekali tidak pernah terbayang akan permintaan Nonik. Itu jelas permintaan konyol. Andai sekali waktu mereka diizinkan bercakap secara nyata dengan Nonik, maka pasti perihal permintaan itu akan dipertanyakan kembali sampai tuntas. Hingga kemudian tidak ada kebingungan yang membekas. Tapi apa hendak dikata. Takdir belum mengizinkan, atau memang tidak pernah. Nonik yang akhirnya hanya berani datang sesekali untuk mengajukan permintaan yang itu-itu saja. Nonik manik entah tidak menyadari atau sengaja membiarkan ibu dan lelaki bengkel itu dalam penderitaan yang tak berkesudahan. Penderitaan bersebab mereka telah kehilangannya, dan kemudian penderitaan bersebab permintaan yang sama sekali tak masuk akal.
***
Tampak sumbringah di dua wajah. Wajah sepasang pengantin yang sedang duduk di atas singgasana. Ya, ini hari bahagia memang, hari bahagia bagi mereka berdua dan semoga saja menjadi hari bahagia bagi siapa saja. Sepasang pengantin itu tampak benar-benar bahagia. Mereka terus saja menyalami setiap tamu dengan senyuman yang tiada putus. Beberapa mahkota menyemat indah dan terususun rapi pada sanggul pengantin perempuan. Sedangkan kopiah meuketob gagah perkasa di atas kepala pengantin laki-laki. Ini pasangan dunia-akhirat yang telah disandingkan di pelaminan. Beberapa tamu berebut foto demi berbagi kebahagiaan. Alunan musik terus menemani dengan sesekali diselingi gelak tawa tetamu. Dan dari pintu itu, ibu si Nonik penuh bahagia menatap pasangan pengantin. Senyum berkali-kali tersungging dari bibirnya. Bahagia benar ia, bahagia bukan buatan.
Belum habis bahagia yang tampak dari setiap raut wajah, kini pemandangan aneh disuguhkan dari setiap sudut ruangan pesta ini. Bagaimana tidak? Dalam satu kedipan mata, tiba-tiba saja ada yang berubah. Ini aneh, benar-benar aneh. Pengantin itu sudah tidak lagi berada di singgasana. Sepasang pengantin beserta singgasananya telah roboh, hancur berantakan. Mereka semua tergeletak di lantai berbalut dengan lumpur hitam pekat. Nyaris tidak dikenali siapa pemilik wajah. Pengantin perempuan tak tampak lagi mahkotanya. Pelaminan yang lengkap dengan riasan kini tak lagi berbentuk. Masih dari pintu itu, ibu si Nonik menatap semuanya dengan penuh keheranan dan menggigil ketakutan.
Sebelumnya senang, kini berubah menjadi kesedihan, ia putus asa. Bercampur aduk perasaannya. Kesedihan bertambah ketika ibu si Nonik menyadari bahwa di antara semua tubuh-tubuh manusia yang tergeletak, pengantin pria masih tegak berdiri dalam keadaan ketakutan menyaksikan semuanya, sama seperti ibu si Nonik. Hingga akhirnya, tatapan pengantin pria dan ibu si Nonik bertemu. Ada gurat kesedihan di antara keduanya. Ada kesedihan mendalam yang tak dapat diceritakan. Ada beribu-ribu perasaan yang membuncah, namun tak kunjung pecah. Hingga bungkam adalah pilihan.
***
“Mimpi itu lagi, Nak! Datang berkali-kali dalam rupa yang sama!”
Sekali waktu di pagi hari, ibu si Nonik masih sedang menyapu daun-daun jambu dan daun-daun belimbing yang jatuh menimpa tanah halaman rumahnya. Memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk menutup muka tanah halaman yang tidak begitu luas ini. Batang jambu ini, dulu waktu Nonik kecil sering benar ia memanjatnya meskipun beberapa kali jatuh dan terluka.
Lamunan tentang batang jambu dan Nonik terjatuh itu kemudian diluruhkan oleh kemunculan lelaki itu. Laki-laki bertubuh tinggi besar, perut rata, berkulit tidak begitu gelap dan berkumis itu melintas dengan sepeda motornya di depan rumah ibu si Nonik, dia sedang menuju ke bengkel tempatnya bekerja. Bengkel yang letakknya berdempetan dengan rumah ibu si Nonik. Sesampai di lokasi, lelaki itu masuk lalu kembali keluar dari bengkel untuk melepaskan satu persatu jejeran papan persegi panjang yang berdiri saling terkait satu sama lain di bagian depan bengkel, kemudian tersenyum sekali pada ibu si Nonik. Si ibu yang sedari tadi menatap ke arahnya juga membalas dengan senyuman takzim. Ada gurat iba di antara keduanya. Ada kisah kesedihan pada keduanya. Ada kisah-kisah sedih yang kemudian tak mampu dibicarakan. Tak mampu untuk dikisahkan. Hingga keduanya kemudian lebih memilih bungkam. Dan di tengah kebungkaman itu, keduanya tersentak, seakan teringat pada sesuatu. Ibu si Nonik kembali menatap lelaki itu dengan potongan kenangan yang tiba-tiba hinggap di kepala. Lelaki itu pun sama. Ia menatap ibu si Nonik seperti teringat pada satu peristiwa yang sudah saling tahu: Mimpi.
Tak lama setelah itu, ibu si Nonik memilih untuk masuk ke dalam meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan beberapa potong kenangan pada batang jambu. Sedangkan laki-laki itu memulai aktifitas perbengkelannya dengan beberapa kenangan yang tetap melekat di kepala.
***
“Jangan pernah alihkan pandanganmu darinya, Bu! Demi aku.”

Potongan-potongan percakapan yang sering dititipkan Nonik pada ibunya melalui mimpi sungguh menguncang jiwa. Ibu si Nonik kini terduduk lemas pada sandaran ranjang. Mimpi-mimpi itu terus saja hadir pada setiap tidurnya. Membangunkan ibu si Nonik sebelum waktunya. Jika sudah begini, ibu si Nonik hanya mampu mengelus dada dan menghela napas panjang dan amat berat. Lalu keluar rumah untuk menyapu, ini rutinitasnya setiap pagi.
Seperti sebelumnya, ibu si Nonik kembali menyapu halaman rumahnya. Dan dari sanalah dia menatap laki-laki bengkel itu dengan penuh hasrat. Laki-laki yang sejatinya jauh lebih muda darinya. Laki-laki yang sepantasnya menjadi anak. Tapi, mimpi Nonik dan pesan yang disampaikannya melalui mimpi itu sungguh sangat mengganggu.
Masih dari pandangan ibu si Nonik, lelaki bengkel itu terus fokus pada pekerjaannya. Beberapa baut dicabut dari dudukan lalu dipilin-pilin, baru setelahnya dipasang kembali. Di antara aktivitas pilinan biji-biji baut itu beberapa kali pikiran nakalnya merasuk. Lelaki bengkel coba mengusir rasukan itu dari dalam pikiran dan lamunannya. Hingga beberapa kali sepeda motor digas dengan kencang dan meraung-raung. Namun, itu sama sekali tidak meluruhkan apa yang sudah merasuk di pikirannya, ya atau mungkin juga sedang merasuk di dalam diri ibu si Nonik. Hingga dalam kondisi yang demikian, lelaki bengkel itu bangkit dari tempat duduk. Menatap tajam ibu si Nonik dengan penuh pesan yang ingin disampaikan. Ibu si Nonik tak tahu cara yang tepat menangkap pesan itu. “Pesan yang samakah? Pesan yang disampaikan Nonik, kah?” hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang terbesit dalam pikiran si ibu.
Dalam kebingungan dan saling terka-menerka yang demikian itu, lelaki bengkel terus saja melangkah menuju ke arah ibu si Nonik. Ada rasa rindu menggebu-gebu di matanya. Ada rasa cinta yang baru mampu muncul setelah mematahkan berbagai pahitnya kenangan. Ada serupa kebahagian bersebab melihat perempuannya yang lama pergi kini kembali. Begitu juga dengan ibu si Nonik. Kebimbangan perlahan-lahan hilang. Putus asa berubah jadi lain rasa. Dan ketika dua telapak tangan kasar lelaki pekerja bengkel itu menyentuh bahu ibu si Nonik, serta-merta seakan-akan bayangan sosok isterinya Nonik melekat di ibunya. Kerinduan pada Nonik yang pergi akibat gulungan air bah,kini seakan terbayar. Bayangan tubuh Nonik yang terkulai dengan baju pengantinya yang telah berbalut dengan lumpur itu sirna.
Dalam tatapan ibu si Nonik hanya tampak wajah seorang lelaki bengkel bertelapak tangan kasar. Tatapan bertemu seperti waktu itu, ketika ibu si Nonik melihat pengantin pria tetap gagah berdiri di tengah-tengah tubuh Nonik dan para tetamu lain tergeletak berbalut lumpur. Sedangkan dalam tatapan lelaki itu, tampak Nonik yang telah kembali ke pangkuannya. Sosok wanita yang amat dirindukannya. Wanita yang pergi meninggalkannya bahkan dengan masih menggunakan baju pengantin.
Di luar kesadaran masing-masing, lelaki bengkel masih berdiri tegak di depan ibu si Nonik. Sedangkan si ibu juga masih menatapnya dengan tatapan yang entah, mungkin nakal? Hingga akhirnya, kaki mereka menuntun masuk ke dalam rumah yang sepi. Sedangkan di luar, angin sepoi-sepoi berhembus dengan gemulainya, membawa terbang beberapa daun belimbing kuning layu, hilang entah kemana.
“Jagalah lelakiku seperti lelakimu, Bu!” Ibu si Nonik seperti mendengar samar-samar bisikan Nonik di dalam dirinya
Lalu ia membatin, “Inilah akibat teramat mencintai dan tak ikhlas melepaskanmu, Nak.”

Di luar sana, tepatnya di bagian belakang rumah ibu si Nonik yang berdekatan dengan semak belukar, terdapat segerombolan bocah tengik sedang berjalan, mereka mengalungi leher masing-masing dengan cabang ketepel siap pakai. Ya, peralatan tempur para pejuang di bumi jajahan kaum zionis itu. Berkali-kali para bocah tersebut menghajar kawanan beburung yang hinggap di pokok-pokok kayu, tapi berkali-kali juga bidikan para bocah meleset, hingga peluru-peluru ketapel itu menyasar dan menghujani atap rumah ibu si Nonik.
Keduanya terperanjat.

“Astagfirulloooh!!”

Penulis Munawar, penikmat seni peran, anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP-Aceh) dan alumni Muharram Journalism College (MJC) jurusan televisi 
Share:

Menagih Jawaban


H. M. Nasir bin Abdul Wahab
(Almarhum, Jumat, 25 September 2020)


Jauh beberapa tahun setelah kuburan kakek dan nenekku kering, di waktu yang lain aku mencoba membujuk ayah supaya diceritakan kisah perjuangannya dalam menundukkan tantangan untuk tidak sekolah akibat ejekan, cemoohan dan ledekan orang-orang yang belum begitu mengenal peradaban pada saat itu. Setelah satu jam lebih aku duduk bersama ayah aku berhasil mengantongi beberapa catatan yang menjadi bagian dari kisah perjuangannya seperti yang sedang kutulis sekarang ini.

Aku mengulangi kembali pertanyaan yang pernah kutanyakan pada kakek semasa hidup beliau, menyangkut rasa penasaranku: Bagaimana ceritanya orang dulu itu cepat sekali diangkat jadi pegawai negeri? Orang dulu yang kumaksud termasuk ayahku. Pertanyaan yang singkat tersebut ternyata menghasilkan jawaban yang panjang dari ayah, hingga aku berpikir memilih menulisnya lebih bagus. Hmm, mungkin karena aku membuka obrolan dengan menggunakan perbendaharaan kata “ Bagaimana Ceritanya?” jadinya ayah bercerita sekarang.

Semasa ayahku dulu belum ada yang namanya seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Ketentuan hukum alam yang berlaku pada zaman dahulu kala itu adalah, bagi siapa saja yang rajin sekolah, nanti setelah mereka tamat mereka langsung akan diangkat menjadi pegawai negeri, dulu sebutannya peugawe (dalam bahasa Aceh). Ayahku beruntung dikarenakan jumlah guru masih sangat sedikit. Dan pada saat itu juga minat orang yang mau sekolah juga sangat kecil. Menurut pandangan beliau, kalau dilihat-lihat ketekunan anak-anak sekarang, termasuk kita-kita ini yang kuliah. Sekiranya anak muda kayak kita hidup di masanya dulu, mungkin kita sudah diangkat jadi PNS atau bahkan lebih dari itu, jadi kepala dinas pendidikan lebih kurangnya

Sekolah di era ayahku atau ayah kalian juga banyak sekali tantangannya. “Coba kamu bayangkan saja,” kata ayahku di suatu malam saat kami sedang menikmati dua piring nasi goreng masak kampung di pinggir jalan kota, “ tiap pergi ke sekolah ayah  harus berjalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo meter. Saat itu angkutan jenis labi-labi belum ditemukan,” Sejenak ayah berhenti bercerita, setelah menelan kemudian beliau memanggil salah seorang pelayan warung makan untuk memesan minuman: Jus Alpukat.


Sedang menikmati makan malam di pinggiran jalan kota

Lalu setelahnya ia melanjutkan cerita, “Dan jalan yang harus ayah lewati (ayah berpikir) itu pun tak layak disebut jalan, besarnya hanya dua kali diameter ban vespa temanmu yang anak motor itu.” Aku tergelak mendengar kata vespa karena yang terlintas adalah seekor hewan dalam bahasa Aceh "baneng" (alias kura-kura). Sembari berpikir diantara suara bising kenderaan yang berlalu lalang di jalana kota, “Kok perumpamaannya ban Vespa sih yah, kenapa gak yang lain.”  
Orang-orang yang pergi sekolah pada zaman dulu belum bisa menikmati jalan aspal bikinan pemerintah seperti sekarang ini, yang ada hanya jalan yang membelah antara padang ilalang. Dikatakan demikian dikarenakan dari rumput-rumput ilalang itu jalan setapak terbentuk. Proses terbentuknya, karena ilalang sering diinjak oleh beberapa anak yang sering pulang pergi sekolah, maka rumput tersebut pun terhambat proses tumbuhnya, lama-lama mati. Dan lamban laun karena sudah terlampau sering diinjak menjelmalah ia menjadi jalan setapak.

“Tahunan lamanya ayah merasakan siklus perjuangan ke sekolah yang seperti itu. Bisa dibayangkan, mulai dari Madrasah, Tsanawiyah, Aliyah (Pendidikan Guru Agama) dan seterusnya.” ayah bersemangat sekali bercerita.

Tapi yang namanya perjuangan itu, teman, seberapa pun pahitnya ia yang namun tidak akan pernah mengkhianati hasil. Hingga pada suatu waktu, tepatnya setelah beliau menamatkan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan melanjutkan study satu tingkatan lagi di sekolah Pendidikan Guru Anak Berkebutuhan Khusus di Jogja. Setelah selesai dari sana barulah apa yang tidak pernah diduga oleh kakek, terjadi. 

Entah waktu itu masih gak cukup guru atau memang lagi masa-masanya penjaringan guru, ayah tidak bisa memastikannya. Saat itu beliau belum kenal sama emak, tahu pun juga enggak apalagi sampai jumpa. Ingatannya sangat kuat hingga sekarang masih diingatnya. 
Kala itu, bangsa Indonesia belum begitu maju, terlebih lagi di pedesaan Aceh. Tepatnya saat di kampung kakek baru-baru siapnya musim panen hasil sawah ladang, di akhir bulan Agustus. Besoknya di minggu pertama memasuki bulan yang baru, menjelang siang, dengan transportasi masih mengandalkan mobil gosoan yang bentuknya memang seperti gosoan jadul, beliau disuruh menghadap ke kantor dinas.

Cara pakai gosoan jadul tersebut, mulanya dibuka bagian tutup atasnya terlebih dulu hingga miring seperti bak mobil truk pengangkut pasir yang mau menumpahkan isi, sebelum gosoan tersebut diisi arang untuk dipakai. Lalu kenapa perumpamaan alat transportasi jenis jadul itu disamakan dengan gosoan? Ya karena di kampung-kampung nama mobil gosoan sempat melekat pada jenis transportasi yang yang satu ini.

Karena menu makanan pinggir jalan tidak kalah enaknya dengan restoran di Kutaraja, jadinya proses kita makan pun sangat pelan, alibinya kami sangat menikmati santapan malamnya. Dan cerita perjuangan pun belum kunjung selesai, “Nah lewat perantara mobil gosoan itulah, di pagi  bulan September ayah disuruh menghadap ke kantor Dinas Kabupaten. Singkat kisah, selang beberapa hari setelah pemanggilan diangkatlah ayah sebagai peugawe (guru), tapi penempatannya jauh dari kampung halaman..” Perjuanagan ayah tak berhenti sampai ia diangkat menjadi pegawai. Terutama terkait dengan hal penaklukkan jarak tempuh yang masih terkendala trnasportasi, ayah masih harus banyak-banyak berdamai dengan keadaan yang demikian. Tapi semangatnya mengabdi tak surut, tidak menurun sepersenpun sama seperti saat ia sekolah dan harus menaklukkan jarak dengan jalan kaki yang jauhnya sejauh mata memandang.


Pada masa-masa awal berbakti, baju warna cokelat berlogo pancacita itu belum ada, karena ketentuan berseragam belum seperti sekarang dalam menjalani menjalani hari-hari dinas. Seringnya beliau mengenakan kemeja biasa berlengan panjang rapi hasil setrika pakek gosoan arang jadul itu. Sesekali kalau ada perkara penting beliau membalut tubuhnya dengan safari seperti miliknya bapak si Ikal ‘Sang Pemimpi’ yang dipakai saat mengambil rapor Ikal di sekolah Muhammadiyah, Manggar, di Provinsi Belitong sana.


***
Kesiapan hati dalam menghadapi cemoohan, ledekan dan nyi-nyiran orang-orang seangkatan yang tak berniat sekolah, menjadi tantangan tersendiri bagi siapa saja yang memutuskan untuk bersekolah pada saat itu. Mau tahu apa "menu" dari teman-teman seusianya dalam menjadikan ayah dan kawan-kawan sebagai bulan-bulanan. Ini menunya: Kata mereka buat apa sekolah? Guru kana goeb/ Guru sudah ada, Teungku Peutua kana goeb/Teungku Peutua (selevel pengurus surau), Bupati kana goeb/ Bupati sudah ada, dan Gubernur pih kana goeb, Gubernur pun kita sudah punya, jadi kupue loem jak sikula, jadi buat apalagi kita sekolah. Hari ini gerombolan orang yang kerap kali meledek anak-anak sekolah itu, syukur Alhamdulillah mereka masih hidup, dan sampai tak jadi siapa-siapa. Hanya statusnya saja yang sudah berubah karena sudah kawin, memiliki anak isteri yang diakui negara.

Kerja mereka dulu, saat waktu masih pagi-pagi sekali, mereka biasa terbengong di tepi sungai, duduk mengurung diri dengan kain sarung yang sudah kaku, melihat air sungai yang mengalir, bersama lamunan mereka yang juga ikut mengalir perlahan menuju muara. Terbengong-terbengong melihat akik-akik di kampung yang memberi minum kerbau dan sapi (dalam bahasa Aceh, perbuatan ini disebut "jak ba ie kubue-leumo"). Mereka para petantang-petenteng itu baru beranjak dari tepi sungai saat matahari sudah sepenggelahan naik, itu pun pulang ke rumah masing-masing buat melanjutkan tidur yang terputus akibat kena siram pas bangun subuh.

Sekiranya dulu ayah dan kawan-kawan berani menjawab ocehan mereka, mungkin beliau akan melayaninya seperti ini; Hai Tuengku apa, Guru, Tuengku Peutua, Bupati dan Gubernur nyan, saboeh saat akan mate geuwoe bak Tuhan, dan tanyoe-tanyoe nyoe keuh na jak sikula yang jeut keu peugantoe posisi awaknyan. Jika diterjemahkan: Duhai mas bro, Guru, Teungku Peutua, Bupati, dan Gubernur itu suatu saat mereka akan mati pergi menghadap Tuhan pemilik langit, dan kita-kita yang pernah sekolah inilah yang menggantikan posisi mereka.

***
Dulunya beliau juga seorang perantau semasa masih melanjutkan sekolah ke tanah Jogja. Semasa di perantauan, ayah juga punya sharing cerita yang panjang, tapi kupenggal sampai disini saja. Semisal dalam urusan menunggu kiriman, beliau sampai harus menunggu berminggu-minggu lamanya sebelum kiriman uang dan logistik sampai dari kampung (keluarga) petani. Saat itu rekening Bank belum begitu masyhur apalagi kotak ATM, kotak ajaib yang ketika tubuhnya digesek secara magis ia akan memuntahkan lembaran-lembaran uang. Mana ada yang begituan saat zaman masih mengandalkan jasa pak pos, bukan seperti pak pos kilat sekarang. Untuk menunggu kiriman, misalkan awal Januari ayah mengabari keluhannya ke kampung halaman soal logistik dan amunisinya yang mau habis, baru di penghujung Januari kiriman uang seadanya dan beras hasil sawah garapan kakek-nenekku sampai ke Jogjha, tepatnya ke Kulon Progo. Karena beratnya perjuangan seorang ayah, makanya setiap hari kuperingati itu dalam tulisan ini apa yang sering digaung-gaungkan oleh manusia modern sekarang: Selamat Hari Ayah.

Photo Perwakilan Kulon Progo Zaman Dulu Yang Sudah Hilang Photonya


**********************Selesai



Kenangan ibadah haji almarhum semasa hidupnya, semoga mendapat haji yang mabrur, Amiin.




Share:

Jauh Sebelum Hari Ini

 Saat-saat menjelang tidur merupakan salahsatu titik dimana anak-anak usia remaja kerap kali berpikir tentang masa depan mereka. Aku termasuk salah satu dari sekian banyak anak usia remaja Indonesia yang masih hidup sampai hari ini, walaupun sebentar lagi akan lapuk. Kekhawatiranku soal masa depan sudah terpikirkan sejak lama, bahkan jauh-jauh hari sebelum aku tamat kuliah dan memilih untuk menulisnya di sini.

“Sepuluh atau lima tahun kedepan, barangkali itu terlalu lama? Jangankan di rentang bilangan angka tersebut, dua atau tiga tuhun kedepan saja aku belum tentu yakin dan tahu pasti: Nanti Aku Akan Jadi Apa?” batinku di penghujung malam. Ngomong-ngomong, kalian sudah tahu belum dua atau tiga tahun kedepan, kalian mau jadi apa?  

Terkadang saat aku hendak tidur dan ketika mata ini belum mau dipejamkan, pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap kali menghampiri hingga membuat mata dan hati juga sulit terpejam. Memang benar kata orang, gelisah itu sering bikin orang gak tidur-tidur. Tapi enggak lah, masak iya? buktinya alunan Kitaro mampu membuatku tenggelam malam ini, aku terlelap.

Setelah kupikir-pikir, mungkin penyebab seringnya aku terseret dalam memikirkan masa depan yang terlalu jauh dikarenakan aku terlalu sering menonton film dan membaca buku cerita bertema mimpi dan masa depan. Seharusnya tak usah dulu ku ngomong soal masa depan yang terlalu jauh. Sekiranya saja aku sanggup menanggung sendiri biaya kos-kosan, makan sehari tiga kali dengan lauk telor dadar masakan padang dan bilangan rupiah ongkos pangkas rambut tak lagi kuminta si tukang pangkas untuk mencatatnya di buku catatan hutang. Sungguh sekiranya saja aku mampu berada pada keadaan yang demikian, aku sudah harus banyak-banyak bersyukur pada Tuhan pemilik langit. Tapi dengan catatan semua biaya kebutuhan sehari-hari bukan lagi uang kiriman dari kampung halaman: Menandakan bahwa aku sudah mandiri.

***
Hari ini usiaku sudah betambah satu tahun lagi dan pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan masih saja berlalu lalang dalam tempurung kepalaku. Di suatu pagi menjelang siang, sekali waktu aku pernah iseng bertanya pada kakek akibat dibujuk jin baik bernama Qarin yang bersembunyi dalam diriku. 

Di sela-sela waktu kakek sedang beristirahat dari lelahnya sehabis pulang mencangkul tanah sawah, "Kek, sebetulnya kakek menginginkan aku jadi apa?"

Nenekku yang cantik hatinya baru saja menghidangkan segelas kopi pancung ke hadapan kakek, kulihat kopi itu masih berasap-asap dan harumnya tercium. Dan rokok daun (Aceh-rukok oen) yang terikat seperti ikatan sapu lidi tidak pernah jauh-jauh dari kakek. Kakek menaruh ikatan rokok tersebut disamping gelas kopi yang barusaja dihidangkan nenek, lengkap dengan korek yang diletakkan bertindihan.

Di kampung kakek, korek yang sekarang terkenal dengan sebutan (mancis) berwarna-warni itu belum begitu akrab di kalangan orang tua. Kakek masih menggunakan korek biji berwarna kuning biru, bergambar perahu dan ada tulisan 'Dollar' di belakangnya, "Terserah sama kamu mau jadi apa saja, asalkan pekerjaanmu itu tidak menjebloskanmu ke dalam jeruji penjara.!"

Kakek melepaskan topi cowboy yang dipakainya, kemudian ia mengipas-ngipasi tubuh yang masih berkeringat. Aku mulai merapatkan diri ke hadapan kakek hingga bau khas keringat menyengat orang yang baru pulang dari sawah itu tercium jelas, masuk ke dalam lobang hidung, "Dulu bapak, ayahku yang sekarang pernah gak menanyakan hal ini pada kakek. Apakah dulu kakek pernah punya keinginan supaya ayah jadi pegawai? hingga kakek menyekolahkannya sampai ayah jadi pegawai seperti sekarang?”

Kakek yang sedang melinting tembakau (Aceh-bakoeng) untuk disulapnya menjadi sebatang gulungan rokok orang tua, memperlihatkan rawut wajah dan mengernyit kebingungan, “Maksudmu bagaimana?” Sejenak aku berpikir bagaimana cara meringkas pertanyaan ini menjadi mudah dimengerti dan langsung ke intinya, “Hmm begini, mungkin dulu ketika ayah bertanya pada kakek: Bagusnya ia jadi apa? Pernah tidak—kakek langsung memperlihatkan keinginan yang besar agar ia menjadi seorang pegawai? begitu maksud cucumu ini, Kek,” ucapku sambil mencoba-coba melinting tembakau tapi enggak bisa-bisa, aku baru sadar ternyata skill melinting itu hanya dimiliki kakek.

Kakek menoleh, “Oh tidak, kakek hanya menyekolahkan ayahmu saja semampu kakek dan dengan bekal yang ada, kakek juga tidak pernah menduga kalau ujung-ujungnya ia akan menjadi pegawai seperti sekarang.”

Aku yang sudah mulai larut dalam obrolan hanya bisa termangut-mangut mendengar paparan kakek, “Jadi bagaimana juga itu ceritanya sampai ayah jadi seorang pegawai, Kek?”

Lintingan rokok daun yang berisi tembakau kelas bawah itu sudah jadi, sekarang tinggal lagi dibakar untuk menikmati sensasi nikmatnya, “Ayahmu jadi seperti sekarang hanya faktor keberuntungan saja. Jadi dulu itu kebutuhan guru besar tapi yang mau sekolah sangat sedikit, karena ayahmu mau sekolah makanya ia jadi kayak sekarang. Mungkin, ya itu hanya untuk mengisi kekosongan saja”

Kakek terkekeh bersamaan dengan keluarnya kepulan asap rokok lewat mulut dan lobang hidungnya, “ Mungkin kalau kakek mau sekolah seperti ayahmu, kakek juga sudah jadi pegawai (Aceh-peugawe), Hehe.." Kakek kembali terkekeh dalam candaannya.    

Selepas menghidangkan segelas kopi pancung, nenek kembali melanjutkan aktivitasnya memasak di luar rumah untuk menyiapakan menu masakan siang bersama cucunya. Rumah kakek dan nenek kecil, tidak ada ruang khusus untuk memasak di dalamnya seperti rumah-rumah zaman sekarang, sementara lapak dapur berada di luar rumah. Aku dan kakek tahu kalau nenek sedang memasak di luar karena asap yang membumbung dan kobaran api menyala yang sedang memakan kayu bakar itu tampak dari celah-celah dinding rumah kayu. Aroma menu masakan siang yang sedang di perapian dan harum daun melinjo muda yang sengaja digoreng dengan minyak kelapa menusuk hidung, tercium hingga ke dalam rumah.

Aku tahu, kalau 'Kerupuk Melinjo' yang sering disebut “Keurupuk Mulieng” itu kalian sering melahapnya, dan aku juga tahu, sedikit sekali diantara kalian yang pernah melahap daun melinjo muda yang digoreng khusus pakek minyak kelapa hasil perasan kaum nenek-nenek di kampung. 

Waktu makan siang hampir tiba dan kakek belum juga bisa lepas dari cerutu kelas terinya. Gulungan asap tak henti-henti mengepul di depan wajah sang kakek hingga menutupi sebagian wajahnya yang mulai sedikit keriput, "Nenek memasak khusus buatmu siang ini. Tadi pagi, sebelum kakek pergi ke sawah, ia meminta kekek untuk berbelanja ke pasar, karena ia tahu siang ini cucunya datang untuk menyantap makan siang bersamanya..”

Mendengar kata-kata "Memasak Khusus", aku melompat dari tempatku duduk mengobrol. Penasaran bukan buatan: Sespesial apa sih isi panci siang ini? Aku berjalan ke belakang mencari sumber aroma masakan, tapi tak sampai keluar menuju hingga dapur, hanya mengintipnya saja lewat celah-celah dinding rumah yang tembus ke luar. Dan tampaklah nenek di sana yang sebentar-sebentar mengecek masakan spesialnya dengan membuka tutup panci berulang kali: Apa isi panci sudah bisa diangkat atau belum?

Nah diantara aktivitas buka tutup-buka tutup panci itulah terlihat apa yang sedang dimasaknya. Salah satu jenis masakan khas orang-orang di kampung, tapi aku suka: Kuah Pliek U yang berasap-asap dan diikuti gelembung-gelembung kecil.

Sementara masakan sebelumnya yang sudah jadi: Ada potongan ikan asin, teri sambal kacang, daun melinjo muda yang baru selesai digoreng. Semuanya sudah dipisah-pisah dalam piring kecil (Aceh-cupe).

Ditambahlagi jagung rebus hasil kebun kakek yang sudah dipotongan-potong dan kini ditaruhnya di dalam mangkuk plastik berwarna ungu.  Maknyuuuss.!!

Eh, ada yang ngiler rupanya, iya aku.

****
Aku rindu kedua orang ini. Dan sekarang saat aku menulis tentang keduanya, aku baru sadar ternyata aku hanya baru menulis beberapa keping kenangan manis saja bersama mereka yang telah tiada itu, aku pilu.

Representasi Aku Bersamanya

Jauh beberapa tahun setelah kuburan kakekku kering, nenekku yang cantik hatinya dan jago memasak 'Kuah Pliek U' itu juga ikut menyusul sang kakek. Dan kini mereka dikubur di atas permukaan tanah yang berdekatan.
Doa cucumu menyertai kalian berdua..



Share:

Gaya Lama Quentin Tarantino

Sepertinya sudah menjadi ciri khas seorang Quentin Tarantino menghadirkan sebuah tonjokan di menit-menit awal pada setiap film garapannya. Tidak dengan Djanggo Unchained yang dibintangi Jamie Foxx dan Christoph Waltz, begitu juga yang terlihat di Hateful Eight yang menjagokan Samuel L Jackson dan Kurt Russel. Masih dengan tampilan dulu di Django, Tarantino belum bisa berhijjrah, sang sutradara masih senang menghadirkan tokoh-tokoh dalam filmnya tampil dalam balutan kostum cowboy.
Quentin Tarantino
Derector
Sebelum menonton film ini, penonton tidak tahu bagaimana cara Quentin Tarantino dengan begitu ajaibnya berhasil mengikat para penonton di depan layar laptop selama dua jam setengah, guna menonton film yang hanya bersetting-kan tempat cuma dua tempat saja: tempat bersalju entah itu di kaki gunung es dan di dalam sebuah bangunan rumah, boleh juga dikatakan sebuah warung atau tempat peristirahatan dari perjalan jauh. Itulah dua setting tempat yang akan penonton dapati selama menonton film ini hingga selesai. Pengalaman saya menonton, jujur; di menit-menit awal saya benar-benar merasa bosan dan mengantuk dengan sajian tontonan satu ini. Tak ubahnya seperti Skripsi yang terdiri dari Bab-bab (chapter). Menonton film yang release 2015 ini benar-benar bikin mata terasa berat untuk terus terbelalak di depan layar laptop, terlebih lagi kalau menontonnya saat sedang lelah atau pas didatangi rasa kantuk, apalagi..

Tapi dialog-dialog menarik dalam film dan rasa penasaran yang dititipkan dalam alam bawah sadar penonton oleh si sutradara sekaligus juga penulis skenario film ini: Quantin Tarantino, mengenai pertanyaan kenapa seorang John Ruth (Kurt Russel) yang berkumis lentik tebal awut-awutan itu menyandera seorang wanita bernama Daisy Domorgue (Jennifer Jason Leigh)? Dan kenapa si lelaki berlaku begitu kasar terhadap wanita tersebut? Sama sekali tidak gentle, perlakuan Russel terhadap wanita yang sudah tak berdaya itu begitu kasar. Pastinya ini akan membuat bagi penonton wanita merasa geram karena salahsatu dari kaum mereka diperlakukan demikian. 

Dengan kondisi pergelangan tangan yang dirantai dan dikaitkan pada pergelangan si penyandera, dalam keadaan didudukkan dalam sebuah kereta kuda yang berjalan diatas permukaan bersalju. Wanita berambut pirang yang dirantai tangannya itu sesekali dihantam dengan ujung sikut lalu ditokok dengan ekor senjata laras panjang. Ini yang kemudian membuat penonton bertanya-tanya siapa dan mengapa wanita malang tersebut disandera dan mendapat perlakuan kasar dari seorang laki-laki yang konon katanya dilahirkan ke dunia ini sebagai pelindung seorang wanita? Ini yang kemudian membuat penonton bertanya-tanya sepanjang laptop hidup.

Film ini terdiri dalam 8 Bab cerita, lalu Tarantino menjadikan Bab 8 jadi Bab 1, artinya film Hateful Eight beralur mundur. Di tengah-tengah perjalanan cerita penonton juga akan menemukan alur yang maju mundur. Sedikit cerita: Pasca peristiwa besar entah itu peperangan yang bergolak di Amerika muncullah sederet nama-nama yang hendak diburu, deretan nama yang lengkap dengan sepak terjang masing-masing. Yang kemudian nama-nama buruan itu masuk dalam list Most Wanted Man or Woman. Dengan jaminan, siapa saja yang mampu menangkap hidup-hidup salah satu dari mereka yang menjadi buruan hingga berhasil membawanya ke tiang gantungan di Rock Wood akan diberikan sejumlah uang. Salahsatu nama yang masuk dalam daftar buruan berhadiah itu adalah si wanita kurang beruntung yang disandera tadi. Hadiah bagi yang berhasil menangkap si wanita akan memperoleh bayaran tertinggi dibandingkan sejumlah nama buruan lain. Sampeyan tahu berapa harga kepala wanita itu? Pokoknya bayaran bounty-nya menggiyurkan, kalau sampeyan ikut main di film ini sampeyan pasti tertarik.

Walaupun film Djanggo Unchained bertemakan ‘Perbudakan dan pemburu hadiah (bounty Hunter), Di Hateful Eight, Tarantino masih juga menghadirkan tontonan yang bersinggungan dengan tema Bounty Hunter. Mayor Marquis Warren yang diperankan Samuel L Jackson adalah salah seorang pemburu hadiah di film tersebut. Nama dan wibawa Warren sudah diketahui oleh banyak para Bounty Hunter yang lain. Warrent juga yang akan menuntuntun para penonton dalam mencari jawaban terhadap rasa penasaran: Siapa sebenarnya si wanita tadi dan kenapa mereka rela bunuh-bunuhan demi si wanita? Bahkan mereka sampai saling meracuni: cara membunuh paling dingin tapi jelas mematikan yang digambarkan dalam film ini. Untuk jelasnya, silakan nonton saja filmnya tapi harus sabar ya dalam menunggu kejutan demi kejutan. Oya, sekedar info, Channing Tatum juga ikut main di film yang keren bin beken ini, disini dia sebagai Jody.


Tapi sayang, di akhir cerita seorang Mayor Marquis Warren harus merelakan satu paket biji pelir lengkap dengan batangnya sekalian ludes habis diterjang peluru. Itu ulah dari kekejaman Channing Tatum yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah cerita. Channing Tatum tak lain adalah saudara laki-lakinya si wanita yang disandera. Diam-diam dia datang untuk meloloskan kakaknya dari penyanderaan. Yang patut disayangkan sang mayor, masa depan Mayor Marquis Warren hilang dibawa lari oleh satu terjangan peluru tajam bin kejam. 

Lalu siapa wanita yang disandera? Wanita itulah jawaban atas alasan kenapa John Ruth berkali-kali mencaci maki sang wanita dengan sebutan “bitch” dan sejalan dengan itu dihantamnya batok kepala si wanita dengan ekor senapan hingga hidung dan kepala berdarah. Akhir cerita penonton juga akan tahu kenapa si wanita digantung dan matinya begitu tragis.

Inilah wanita buruan berharga tinggi

Share:

Recent Posts

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.

Pages