![]() |
| Ilustrasi photo: Temuan dari Internet |
-
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
Alimnya Tingkah Polah SPG di Aceh
Belajar Mendeskripsi
Makna Warung Kopi di Aceh
![]() |
| Jep Kupi Nak Bek Pungoe Minum Kopi Supaya Tidak Gila |
Nonik
![]() |
| Sumber photo: Acehtrend |
Dua bulan sudah hidup menjanda, ibu si Nonik kembali mendapat ujian berat, pasalnya anak gadis semata wayang pergi meninggalkannya menghadap yang Maha Kuasa. Setelah sebelum itu Tuhan juga telah mengajak pergi suaminya, Badrun pergi ke tempat yang sama. Ibu si Nonik belum begitu ikhlas menerima kenyataan atas dua ujian berat tersebut, terlebih lagi setelah kepergian anak gadis satu-satunya itu yang bernama lengkap Nonik Manik. “Tidak Rela” itulah dua kata yang tergambar dari keseharian ibu si Nonik yang menjalani hidup tak bersemangat dan berwajah murung juga pucat pasi. Hingga suatu ketika, sikap ketidakrelaan yang melekat kuat pada ibunya membuat mendiang Nonik Manik yang telah tiada merasa diusik di tempat peristirahatan sana.
Penulis Munawar, penikmat seni peran, anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP-Aceh) dan alumni Muharram Journalism College (MJC) jurusan televisi
Menagih Jawaban
Sekolah di era ayahku atau ayah kalian juga banyak sekali tantangannya. “Coba kamu bayangkan saja,” kata ayahku di suatu malam saat kami sedang menikmati dua piring nasi goreng masak kampung di pinggir jalan kota, “ tiap pergi ke sekolah ayah harus berjalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo meter. Saat itu angkutan jenis labi-labi belum ditemukan,” Sejenak ayah berhenti bercerita, setelah menelan kemudian beliau memanggil salah seorang pelayan warung makan untuk memesan minuman: Jus Alpukat.
Entah waktu itu masih gak cukup guru atau memang lagi masa-masanya penjaringan guru, ayah tidak bisa memastikannya. Saat itu beliau belum kenal sama emak, tahu pun juga enggak apalagi sampai jumpa. Ingatannya sangat kuat hingga sekarang masih diingatnya. Kala itu, bangsa Indonesia belum begitu maju, terlebih lagi di pedesaan Aceh. Tepatnya saat di kampung kakek baru-baru siapnya musim panen hasil sawah ladang, di akhir bulan Agustus. Besoknya di minggu pertama memasuki bulan yang baru, menjelang siang, dengan transportasi masih mengandalkan mobil gosoan yang bentuknya memang seperti gosoan jadul, beliau disuruh menghadap ke kantor dinas.
Cara pakai gosoan jadul tersebut, mulanya dibuka bagian tutup atasnya terlebih dulu hingga miring seperti bak mobil truk pengangkut pasir yang mau menumpahkan isi, sebelum gosoan tersebut diisi arang untuk dipakai. Lalu kenapa perumpamaan alat transportasi jenis jadul itu disamakan dengan gosoan? Ya karena di kampung-kampung nama mobil gosoan sempat melekat pada jenis transportasi yang yang satu ini.
Karena menu makanan pinggir jalan tidak kalah enaknya dengan restoran di Kutaraja, jadinya proses kita makan pun sangat pelan, alibinya kami sangat menikmati santapan malamnya. Dan cerita perjuangan pun belum kunjung selesai, “Nah lewat perantara mobil gosoan itulah, di pagi bulan September ayah disuruh menghadap ke kantor Dinas Kabupaten. Singkat kisah, selang beberapa hari setelah pemanggilan diangkatlah ayah sebagai peugawe (guru), tapi penempatannya jauh dari kampung halaman..” Perjuanagan ayah tak berhenti sampai ia diangkat menjadi pegawai. Terutama terkait dengan hal penaklukkan jarak tempuh yang masih terkendala trnasportasi, ayah masih harus banyak-banyak berdamai dengan keadaan yang demikian. Tapi semangatnya mengabdi tak surut, tidak menurun sepersenpun sama seperti saat ia sekolah dan harus menaklukkan jarak dengan jalan kaki yang jauhnya sejauh mata memandang.
Kerja mereka dulu, saat waktu masih pagi-pagi sekali, mereka biasa terbengong di tepi sungai, duduk mengurung diri dengan kain sarung yang sudah kaku, melihat air sungai yang mengalir, bersama lamunan mereka yang juga ikut mengalir perlahan menuju muara. Terbengong-terbengong melihat akik-akik di kampung yang memberi minum kerbau dan sapi (dalam bahasa Aceh, perbuatan ini disebut "jak ba ie kubue-leumo"). Mereka para petantang-petenteng itu baru beranjak dari tepi sungai saat matahari sudah sepenggelahan naik, itu pun pulang ke rumah masing-masing buat melanjutkan tidur yang terputus akibat kena siram pas bangun subuh.
Kenangan ibadah haji almarhum semasa hidupnya, semoga mendapat haji yang mabrur, Amiin.
Jauh Sebelum Hari Ini
***
Di kampung kakek, korek yang sekarang terkenal dengan sebutan (mancis) berwarna-warni itu belum begitu akrab di kalangan orang tua. Kakek masih menggunakan korek biji berwarna kuning biru, bergambar perahu dan ada tulisan 'Dollar' di belakangnya, "Terserah sama kamu mau jadi apa saja, asalkan pekerjaanmu itu tidak menjebloskanmu ke dalam jeruji penjara.!"
Kakek melepaskan topi cowboy yang dipakainya, kemudian ia mengipas-ngipasi tubuh yang masih berkeringat. Aku mulai merapatkan diri ke hadapan kakek hingga bau khas keringat menyengat orang yang baru pulang dari sawah itu tercium jelas, masuk ke dalam lobang hidung, "Dulu bapak, ayahku yang sekarang pernah gak menanyakan hal ini pada kakek. Apakah dulu kakek pernah punya keinginan supaya ayah jadi pegawai? hingga kakek menyekolahkannya sampai ayah jadi pegawai seperti sekarang?”
Aku yang sudah mulai larut dalam obrolan hanya bisa termangut-mangut mendengar paparan kakek, “Jadi bagaimana juga itu ceritanya sampai ayah jadi seorang pegawai, Kek?”
Kakek terkekeh bersamaan dengan keluarnya kepulan asap rokok lewat mulut dan lobang hidungnya, “ Mungkin kalau kakek mau sekolah seperti ayahmu, kakek juga sudah jadi pegawai (Aceh-peugawe), Hehe.." Kakek kembali terkekeh dalam candaannya.
Waktu makan siang hampir tiba dan kakek belum juga bisa lepas dari cerutu kelas terinya. Gulungan asap tak henti-henti mengepul di depan wajah sang kakek hingga menutupi sebagian wajahnya yang mulai sedikit keriput, "Nenek memasak khusus buatmu siang ini. Tadi pagi, sebelum kakek pergi ke sawah, ia meminta kekek untuk berbelanja ke pasar, karena ia tahu siang ini cucunya datang untuk menyantap makan siang bersamanya..”
Mendengar kata-kata "Memasak Khusus", aku melompat dari tempatku duduk mengobrol. Penasaran bukan buatan: Sespesial apa sih isi panci siang ini? Aku berjalan ke belakang mencari sumber aroma masakan, tapi tak sampai keluar menuju hingga dapur, hanya mengintipnya saja lewat celah-celah dinding rumah yang tembus ke luar. Dan tampaklah nenek di sana yang sebentar-sebentar mengecek masakan spesialnya dengan membuka tutup panci berulang kali: Apa isi panci sudah bisa diangkat atau belum?
Nah diantara aktivitas buka tutup-buka tutup panci itulah terlihat apa yang sedang dimasaknya. Salah satu jenis masakan khas orang-orang di kampung, tapi aku suka: Kuah Pliek U yang berasap-asap dan diikuti gelembung-gelembung kecil.
Sementara masakan sebelumnya yang sudah jadi: Ada potongan ikan asin, teri sambal kacang, daun melinjo muda yang baru selesai digoreng. Semuanya sudah dipisah-pisah dalam piring kecil (Aceh-cupe).
Ditambahlagi jagung rebus hasil kebun kakek yang sudah dipotongan-potong dan kini ditaruhnya di dalam mangkuk plastik berwarna ungu. Maknyuuuss.!!
Eh, ada yang ngiler rupanya, iya aku.
****
Gaya Lama Quentin Tarantino
![]() |
| Quentin Tarantino Derector |
Lalu siapa wanita yang disandera? Wanita itulah jawaban atas alasan kenapa John Ruth berkali-kali mencaci maki sang wanita dengan sebutan “bitch” dan sejalan dengan itu dihantamnya batok kepala si wanita dengan ekor senapan hingga hidung dan kepala berdarah. Akhir cerita penonton juga akan tahu kenapa si wanita digantung dan matinya begitu tragis.
![]() |
| Inilah wanita buruan berharga tinggi |



















