-
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
-
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
Rabat Jaleem
Dilema Ijazah
Mengingat betapa sulit persaingan global di dunia professional dan tuntutan kerja saat ini. Semoga saya tidak berlebihan mengatakan: jika saja tujuan dari pendidikan adalah mencari pekerjaan, dengan melihat kenyataan dan garis ketetapan zaman akhir-akhir ini yang semakin menjamurnya pengangguran dari tahun ke tahun, maka jelas akan banyak orang terdidik yang akan mengalami tekanan dan gangguan jiwa karena tidak memiliki pekerjaan setelah tamat sekolah-dan mereka harus dipaksa belajar menikmati hidup di rumah sakit jiwa. Ini belum lagi dengan tuntutan kawin yang bisa memperparah keadaan.
Tetapi fakta lain: apakah kita tahu sudah berapa jumlah orang terdidik dan tidak terdidik (jalan pintas-beli ijazah) yang sudah mengantongi ijazah sampai hari ini. Mulai dari lulusan perguruan tinggi negeri hingga swasta? Aku juga tidak tahu. Lagian mana ada orang gila (kurang kerjaan) yang mau menghitungnya. Dan umumnya dari mereka yang berstatus pengangguran dan hari ini punya legalitas yang dalam dunia pendidikan dikenal dengan sebutan ijazah.
Satu tahun setelah divonis menjadi alumni dari salah satu "sekolah" yang biasa-biasa saja yang ada di tanah ini (dibaca dengan nada remeh dan loyo), aku bingung: berpikir kemana lagi aku harus melangkah? Seperti: koran-koran dan situs-situs penyedia lowongan kerja sudah lama menjadi sajian dan santapan yang tidak mungkin kulewatkan untuk tidak kubaca. Tetapi semua persyaratan diterima kerja yang tertera di halaman lowongan pekerjaan, sedikit sekali yang melekat padaku selain dari tinggi dan berat badan ideal serta memiliki berijazah. Sementara persyaratan lain nol besar, tak ada yang menempel padaku. Ditambah lagi dengan usiaku yang sudah seumuran "pohon beringin". Nasib, nasib.. ini yang membuatku sangat sulit diterima dimana-mana, termasuk di hati "dia".
Keadaanku masih begitu-begitu saja, sebagai Pengacara (Pengangguran Tiap Acara). Hampir setiap malam, sebelum tidur aku mengambil sesuatu yang sudah lama kuselipkan dibalik kasur butut yang kapasnya berserak tapi tetap wangi (seharusnya). Sebuah map yang berisikan kertas berharga yang telah kuperjuangkan hingga empat tahun setengah lamanya. Kuambilkan isi map itu, lalu ku perhatikan "ia" lekat-lekat serta penuh penghayatan pada masa perjuangan dalam meraihnya. Di bawah sorotan boh lam yang sedikit meredup aku meratapi nasib pada selembar ijazah dan transkrip nilai yang tertoreh nilai biasa-biasa saja: nilai yang cuma cukup untuk melamar menjadi seorang hansip di kampung calon mertua. Aku merasa depresi tingkat dewa dan itu kurasakan selama berhari-hari.
| "Get the hell are here, you sit on my chair!!" |
Alimnya Tingkah Polah SPG di Aceh
![]() |
| Ilustrasi photo: Temuan dari Internet |
Belajar Mendeskripsi
Makna Warung Kopi di Aceh
![]() |
| Jep Kupi Nak Bek Pungoe Minum Kopi Supaya Tidak Gila |
Nonik
![]() |
| Sumber photo: Acehtrend |
Dua bulan sudah hidup menjanda, ibu si Nonik kembali mendapat ujian berat, pasalnya anak gadis semata wayang pergi meninggalkannya menghadap yang Maha Kuasa. Setelah sebelum itu Tuhan juga telah mengajak pergi suaminya, Badrun pergi ke tempat yang sama. Ibu si Nonik belum begitu ikhlas menerima kenyataan atas dua ujian berat tersebut, terlebih lagi setelah kepergian anak gadis satu-satunya itu yang bernama lengkap Nonik Manik. “Tidak Rela” itulah dua kata yang tergambar dari keseharian ibu si Nonik yang menjalani hidup tak bersemangat dan berwajah murung juga pucat pasi. Hingga suatu ketika, sikap ketidakrelaan yang melekat kuat pada ibunya membuat mendiang Nonik Manik yang telah tiada merasa diusik di tempat peristirahatan sana.
Penulis Munawar, penikmat seni peran, anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP-Aceh) dan alumni Muharram Journalism College (MJC) jurusan televisi
Menagih Jawaban
Sekolah di era ayahku atau ayah kalian juga banyak sekali tantangannya. “Coba kamu bayangkan saja,” kata ayahku di suatu malam saat kami sedang menikmati dua piring nasi goreng masak kampung di pinggir jalan kota, “ tiap pergi ke sekolah ayah harus berjalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo meter. Saat itu angkutan jenis labi-labi belum ditemukan,” Sejenak ayah berhenti bercerita, setelah menelan kemudian beliau memanggil salah seorang pelayan warung makan untuk memesan minuman: Jus Alpukat.
Entah waktu itu masih gak cukup guru atau memang lagi masa-masanya penjaringan guru, ayah tidak bisa memastikannya. Saat itu beliau belum kenal sama emak, tahu pun juga enggak apalagi sampai jumpa. Ingatannya sangat kuat hingga sekarang masih diingatnya. Kala itu, bangsa Indonesia belum begitu maju, terlebih lagi di pedesaan Aceh. Tepatnya saat di kampung kakek baru-baru siapnya musim panen hasil sawah ladang, di akhir bulan Agustus. Besoknya di minggu pertama memasuki bulan yang baru, menjelang siang, dengan transportasi masih mengandalkan mobil gosoan yang bentuknya memang seperti gosoan jadul, beliau disuruh menghadap ke kantor dinas.
Cara pakai gosoan jadul tersebut, mulanya dibuka bagian tutup atasnya terlebih dulu hingga miring seperti bak mobil truk pengangkut pasir yang mau menumpahkan isi, sebelum gosoan tersebut diisi arang untuk dipakai. Lalu kenapa perumpamaan alat transportasi jenis jadul itu disamakan dengan gosoan? Ya karena di kampung-kampung nama mobil gosoan sempat melekat pada jenis transportasi yang yang satu ini.
Karena menu makanan pinggir jalan tidak kalah enaknya dengan restoran di Kutaraja, jadinya proses kita makan pun sangat pelan, alibinya kami sangat menikmati santapan malamnya. Dan cerita perjuangan pun belum kunjung selesai, “Nah lewat perantara mobil gosoan itulah, di pagi bulan September ayah disuruh menghadap ke kantor Dinas Kabupaten. Singkat kisah, selang beberapa hari setelah pemanggilan diangkatlah ayah sebagai peugawe (guru), tapi penempatannya jauh dari kampung halaman..” Perjuanagan ayah tak berhenti sampai ia diangkat menjadi pegawai. Terutama terkait dengan hal penaklukkan jarak tempuh yang masih terkendala trnasportasi, ayah masih harus banyak-banyak berdamai dengan keadaan yang demikian. Tapi semangatnya mengabdi tak surut, tidak menurun sepersenpun sama seperti saat ia sekolah dan harus menaklukkan jarak dengan jalan kaki yang jauhnya sejauh mata memandang.
Kerja mereka dulu, saat waktu masih pagi-pagi sekali, mereka biasa terbengong di tepi sungai, duduk mengurung diri dengan kain sarung yang sudah kaku, melihat air sungai yang mengalir, bersama lamunan mereka yang juga ikut mengalir perlahan menuju muara. Terbengong-terbengong melihat akik-akik di kampung yang memberi minum kerbau dan sapi (dalam bahasa Aceh, perbuatan ini disebut "jak ba ie kubue-leumo"). Mereka para petantang-petenteng itu baru beranjak dari tepi sungai saat matahari sudah sepenggelahan naik, itu pun pulang ke rumah masing-masing buat melanjutkan tidur yang terputus akibat kena siram pas bangun subuh.
Kenangan ibadah haji almarhum semasa hidupnya, semoga mendapat haji yang mabrur, Amiin.
















