Menulis Karena Gelisah Terhadap Sesuatu..

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Rabat Jaleem



Cerpen ini sudah pernah dimuat di situs berita online: Acehtrend edisi Minggu/ 28/04/2018.

Rusli dulunya pemuda yang tambun, tanpa alasan yang jelas tubuhnya digerogoti darah manis hingga membuat orang-orang tak bisa percaya melihat tubuhnya yang kini menjadi ringkih. Hari-harinya dihabiskan berteman dengan rokok yang tiada putus. Dia pernah menjadi pemuda, tapi setelah angka usianya yang ke tigapuluh lewat, Rusli dijuluki bujang lapuk bersebab ia tak kunjung menikah. Ada yang menganggap dia tidak selera atas perempuan. Banyak juga orang kampung menganggapnya impoten.

Di suatu sore, di bawah guyuran gerimis ia mendayung sepeda ontel yang sebenarnya warisan dari kakek buyutnya, menuju ke sebuah warung kopi tua yang berada di kawasan persawahan. Sepeda itu berderit di atas jalan berbatu sebab rantainya yang berkarat. Ini juga yang membuat Rusli harus mengumpulkan segenap tenaganya dalam mendayung, sampai-sampai kentutnya keluar berhamburan. Ia sedang menuju ke sebuah warung kopi tua yang berada di kawasan persawahan. Warung kopi telah menjadi rumah ke dua setelah rumah bikinan orang tuanya.

“Sini, sini..”

Rusli berseru ke teman-teman ngopinya untuk mendengar ceritanya. Sudah menjadi kebiasaan, setiap berkumpul dengan teman-teman di warung dia akan bercerita panjang lebar sembari menepuk-nepuk dada.

“Tukang santet hebat di kampung tetangga mati.” Tiga orang teman yang selama ini jadi pendengar setia atas cerita-cerita Rusli, tercengang. “Bisa mati juga dia ya, bukannya dulu bisa menghilang saat kepergok melakukan ritual keliling kampung tanpa menggunakan sehelai benang?” sambar Kasim. Rusli cepat-cepat menghabiskan kopinya, “kalau tidak percaya ayo ikut aku.” Rusli meninggalkan gelas kopi yang kosong.
***
Pagi ini warga kampung tetangga dihebohkan dengan kabar temuan mayat seseorang. Kondisi mayat tersebut mengambang di atas permukaan air dengan leher dijerat sabut ijuk di dalam sebuah sumur tua yang tak bercincin. Mayat tersebut masih bisa dikenali, mungkin dikarenakan si pembunuh masih punya hati hingga tak jadi memisahkan batok kepala sekaligus batang leher seorang tukang santet dari dudukan tubuhnya. Sebenarnya tukang santet ini sudah lama diincar dan dicurigai oleh warga setempat. Namun, warga belum menemukan bukti yang kuat terlebih kasus santet semacam ini bukanlah kasus yang dapat dilaporkan kepada pihak berwajib. Sehingga warga tidak dapat berbuat apa-apa meskipun kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Akhirnya warga memilih main hakim sendiri.

Semalam, nasib baik sedang berpihak pada warga, “setan” kiriman Rabat Jaleem membocorkan rahasia soal identitas siapa empunya. Sebab sudah tak betah lagi berlama-lama di dalam tubuh seorang gadis setelah mendapat usiran dari orang pintar lewat bacaan-bacaan ayat suci. Berbekal informasi yang mengarah pada keberadaan Rabat Jaleem inilah para pemuda mengambil jalan pintas: warga menjerat leher Rabat Jaleem dan membuangnya ke dalam sumur tua.

Ini pagi senin, seharusnya anak-anak sekolah dan orang kantoran sudah bergegas ke tempat kerja mereka masing-masing bersebab harus mengikuti apel pagi. Tetapi yang anak-anak sekolah dan orang kantoran di kampung tetangga itu lakukan adalah, dengan seragam sekolah dan dandanan kantor, mereka mengerumuni mulut sumur tua. Mereka rela berdesakan hingga melewati jam apel senin usai hanya untuk mendongakkan kepala agar bisa melihat isi sumur tua yang buat penasaran dan menjadi buah bibir sedari tadi, kala waktu masih pagi buta.

Ini kampung tetangga, namanya juga sebuah kampung, jadi sudah pasti tak jauh berbeda dengan kampung-kampung lain, hanya saja keberadaan dan maraknya kabar tentang santet yang membuat kampung tetangga menjadi spesial sekaligus menyeramkan di mata orang-orang. Rabat Jaleem merupakan julukan  untuk seorang lelaki tua sakti mandra guna yang selama ini sering membuat masyarakat kampung tetangga resah. Bagaimana tidak? Dari waktu ke waktu korban terus berjatuhan, tua muda hingga anak-anak menjadi tumbal buroeng tujoeh peliharaan Rabat Jaleem. Dia diduga sebagai tukang santet yang sangat kejam dan tak punya hati ketika memilih dan menjerat korban.

“Kalian tahu bagaimana kiprahnya selama ini? Tidak bisa diragukan dan dibantahkan lagi. Sangat kejam dan sangat adil. Ya adil! Setiap rumah mendapatkan jatah masing-masing mulai dari gatal hingga kemudian luka sampai lari keliling kampung sembari teriak-teriak kesetanan.” Rusli melanjutkan ceritanya dengan mimik meyakinkan di depan orang-orang yang sedari tadi mengerumuni sumur tua yang berisi mayat Rabat Jaleem itu. Rusli dengan terengah-engah sehabis menempuh perjalanan yang pada nyatanya tidak begitu jauh dari warung kopi tadi terus melanjutkan ceritanya, bak seorang pemonolog yang sedang mencuri perhatian penonton. Anehnya, orang-orang mendengarkan dengan khusuk sembari mangangguk kepala.

Pernah suatu kali seorang warga bercerita, pada suatu malam, dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya lantas mendengar suara aneh dari atap rumah. Atap rumahnya seperti disirami butiran pasir. Sejak malam itu rumahnya disesaki hawa aneh. Celakanyanya lagi, ternyata peristiwa aneh tak hanya selesai pada malam itu. Akan tetapi, besok paginya di pintu pagar halaman rumah ditemukan bungkusan bahan santet yang dibalut dengan kain putih persis kain untuk membalut mayat yang lengkap dengan isi muatan sihir seperti jeruk purut busuk yang dilumuri tusukan pentul, minyak orang meninggal hingga beras padi. Saat itu keberuntungan masih memihak pada tuan rumah. Sebab, bungkusan itu belumlah selesai ditanam dengan sempurna oleh si punya hajat. Alhasil, bungkusan yang sebagiannya menyembul ke permukaan dapat dilihat dengan jelas oleh sang pemilik rumah dan sontak saja membuat terperangah.

Pemilik rumah yang bingung harus berbuat apa langsung saja memanggil orang pintar untuk menengani perkara bungkusan itu. Oleh orang pintar tersebut kemudian diselesaikan dengan cara yang cukup lihai dan tetap hati-hati. Nah, kalian tahu bagaimana cara menyelesaikannya?” Rusli seperti kehabisan napas, menarik napas sekali, memperbaiki posisi berdirinya. Lalu menatap wajah pendengarnya dengan saksama.
“Kau sangat banyak tau?” Kasim yang sedari tadi khusuk mendengar, kemudian menyambar.

“Harus. Sebab kalau aku tidak tahu, maka kalian juga tidak akan pernah tahu.” Rusli menjawab dengan penuh rasa bangga dan dagu terangkat. “Orang pintar yang dipanggil tadi kemudian menyelesaikan kiriman tak baik itu dengan caranya sendiri. Dia memetik daun melinjo hijau tua, lalu menyelipkan daun melinjo di antara lipatan lutut kirinya, baru kemudian ia jongkok dan mencolak-colek bungkusan yang diikat seperti mayat dengan ujung golok yang berkarat. Melepaskan ikatan demi ikatan dengan ujung golok hingga ketahuan isinya.”

“Tak hanya itu saja korbannya,” sambung Rusli. “Pernah ada korban yang lebih menyeleneh di antara semua korban yang pernah ada. Bagaimana tidak? Bayangkan saja dia tidak bisa kentut selama berjam-jam. Ketidaklaziman itu terjadi setelah ditemukan balon di dalam sumur. Pada mulanya itu hanya balon biasa, tetapi lambat laun diketahui juga bahwa itu adalah balon kiriman Rabat Jaleem. Menurut kabar, balon yang telah berisi udara seadanya dan dijerat dengan kawat itu diniatkan sebagai lambung si korban yang dimantrai sedemikian rupa sehingga sang korban tidak dapat melakukan kentut selama berjam-jam. Ini jelas cukup menderita. Cukup menderita dengan cara paling sederhana.”

“Satu hal yang perlu kalian tahu, pastinya tukang santet seperti itu tidak hanya Rabat Jaleem seorang. Bisa jadi ada orang yang lebih hebat dari dia tapi selama ini masih diam saja. Atau jangan-jangan Rabat Jaleem itu bukan tukang santet yang asli, tapi ada orang lain di balik itu semua.” Rusli berhenti sejenak. Dia menikmati tingkah pendengarnya yang sudah mulai risau dan bertanya-bertanya.

“Rusli, yang betul kalau bicara. Jangan mengada-ada. Jangan membuat kami tambah takut dan risau lagi.” Kasim menimpali seperti sebelumnya.

“Nah, bisa jadi, kan? Siapa yang bisa memastikan? Makanya kalian harus waspada dan berhati-hati. Tapi yang terpenting, satu hal, kalian tahu? Kalian tahu satu ritual khusus yang selalu dilakukan oleh tukang santet?” Rusli diam menunggu jawaban dari para pendengarnya.

“Apa? Cepat kau beri tahu!” Kasim tak sabar.
“Tebak sendiri lah!” Rusli benar-benar berhasil mengendalikan suasana. “Mereka kalau kencing tidak pernah mencuci,” seorang warga dengan raut setengah mati menyimak meyahut.
“Kalau pakek sempak selalu terbalik!”

Syakumi selalu ngasal dia kalau buka mulut.
“Oi Syakumi, sembarangan aja moncongmu, sempakmu itu kebalik!” tawa Rusli meledak dan dikuti yang lain.
“Sujud menghadap matahari terbenam,” jawab yang lain dengan penuh semangat.

“Sembari mulutnya komat-kamit.” Sahut lagi suara lain.
Rusli terbahak, “Itu di Jepang, begok!” Sanang betul dia sampai-sampai tak bisa berhenti tertawa hingga terbatuk-batuk.
Kalian urus mayat itu, aku ingin mengelilingi kampung, kali saja ada berita atau temuan baru yang dapat kusampaikan besoknya kepada kalian semua.” Tanpa mendengar kata orang, Rusli langsung mengambil sepeda dan bergegas mendayungnya dengan perlahan-lahan sambil bersiulan. Dia menikmati betul waktu sendirinya seperti itu. Kali ini dia tidak terburu-buru. Dia berjalan melewati setiap jalan kecil yang ada di kampung tetangga itu sembari memasang mata dan telinga, siapa tahu ada berita atau peristiwa yang dapat dijadikan bahan cerita di warung kopi esok hari.

Rusli seakan tanpa lelah terus saja mengelilingi kampung, meskipun jalan yang sama telah dilewati beberapa kali, tapi itu tidak membuat Rusli berhenti mendayung sepedanya dengan penuh senyuman dan mata yang berkeliaran bak maling. Hal itu terus dilakukan Rusli sampai senja. Sadar hari sudah senja, Rusli kemudian memilih melewati jalan berbukit untuk menuju ke kampungnya. Di atas bukit kecil berumput rendah, terdapat jalan setapak yang terbentuk sendirinya sebab sering dilewati banyak telapak kaki. Jalan yang sudah gundul akan rumput hingga yang muncul hanya sebaris tanah yang panjang. Jalan ini merupakan jalan pintas menuju kampung Rusli yang lebih sering digunakan oleh para petani untuk pulang.

Sepanjang jalan itu, Rusli mendayung sepedanya dengan perlahan hingga secara perlahan pula tubuhnya menutupi matahari yang sedang rebah terbenam. Beberapa kayuhan kemudian, Rusli memilih berhenti di bawah pohon beringin tua, dia kencing di sana, tanpa membasuhnya kemudian menghadap matahari terbenam sujud sekali, tersenyum, lalu kembali mendayung sepedanya dengan pelan untuk pulang.

Dalam gubuk, 24 April 2018.

Munawar, penikmat seni peran, anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP-Aceh) dan alumni Muharam Journalism College (MJC) jurusan televisi.

Ilustrasi photo dikutip dari Jawa Pos.

Share:

Dilema Ijazah

Tujuan dari seseorang sekolah barangkali supaya dia tahu bagaimana cara menikmati hidup setelah tamat sekolah nanti. Dan sudah siap dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang harus dihadapi, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Sebab gambaran umum tujuan orang-orang sekolah hari ini salah satunya untuk mendapat pekerjaan. Tapi sebetulnya, kalau kita mau membuka mata lebar-lebar untuk melihat dengan atas apa yang sedang terpampang, tentunya seseorang akan depresi berat kalau saja menempatkan sekolah sebagai tujuan memperoleh pekerjaan. 

Mengingat betapa sulit persaingan global di dunia professional dan tuntutan kerja saat ini. Semoga saya tidak berlebihan mengatakan: jika saja tujuan dari pendidikan adalah mencari pekerjaan, dengan melihat kenyataan dan garis ketetapan zaman akhir-akhir ini yang semakin menjamurnya pengangguran dari tahun ke tahun, maka jelas akan banyak orang terdidik yang akan mengalami tekanan dan gangguan jiwa karena tidak memiliki pekerjaan setelah tamat sekolah-dan mereka harus dipaksa belajar menikmati hidup di rumah sakit jiwa. Ini belum lagi dengan tuntutan kawin yang bisa memperparah keadaan.
Mulai dari kata ijazah
Jujur, saat membuat postingan ini, aku sudah beberapa kali menghidupkan korek api jenis yang berbiji, tapi selalu saja gagal bersebab koreknya basah kena air hujan setelah air hujan itu mengguyuri sekujur tubuhku termasuk mengguyuri celah dimana korek kusimpan. Tujuan aku menghidupkan korek untuk membakar lembaran ijazah yang oleh banyak orang dianggap mulia binti berharga itu.
Sekarang ini, lembaran kertas yang menurut orang banyak paling berharga itu bukanlagi barang langka yang sulit dimiliki. Tanpa sekolahpun jika seseorang punya jaringan yang mendukung (tentunya dengan tidak melupakan uang), selembar ijazah bisa dengan mudah dimiliki dengan cara membelinya. Bagi anak didik yang ulet, serius dan fokus di dunia pendidikan, ijazah sudah barang pasti didapat. 

Tetapi fakta lain: apakah kita tahu sudah berapa jumlah orang terdidik dan tidak terdidik (jalan pintas-beli ijazah) yang sudah mengantongi ijazah sampai hari ini. Mulai dari lulusan perguruan tinggi negeri hingga swasta? Aku juga tidak tahu. Lagian mana ada orang gila (kurang kerjaan) yang mau menghitungnya. Dan umumnya dari mereka yang berstatus pengangguran dan hari ini punya legalitas yang dalam dunia pendidikan dikenal dengan sebutan ijazah.


Satu tahun setelah divonis menjadi alumni dari salah satu "sekolah" yang biasa-biasa saja yang ada di tanah ini (dibaca dengan nada remeh dan loyo), aku bingung: berpikir kemana lagi aku harus melangkah? Seperti: koran-koran dan situs-situs penyedia lowongan kerja sudah lama menjadi sajian dan santapan yang tidak mungkin kulewatkan untuk tidak kubaca. Tetapi semua persyaratan diterima kerja yang tertera di halaman lowongan pekerjaan, sedikit sekali yang melekat padaku selain dari tinggi dan berat badan ideal serta memiliki berijazah. Sementara persyaratan lain nol besar, tak ada yang menempel padaku. Ditambah lagi dengan usiaku yang sudah seumuran "pohon beringin". Nasib, nasib.. ini yang membuatku sangat sulit diterima dimana-mana, termasuk di hati "dia".

Keadaanku masih begitu-begitu saja, sebagai Pengacara (Pengangguran Tiap Acara). Hampir setiap malam, sebelum tidur aku mengambil sesuatu yang sudah lama  kuselipkan dibalik kasur butut yang kapasnya berserak tapi tetap wangi (seharusnya). Sebuah map yang berisikan kertas berharga yang telah kuperjuangkan hingga empat tahun setengah lamanya. Kuambilkan isi map itu, lalu ku perhatikan "ia" lekat-lekat serta penuh penghayatan pada masa perjuangan dalam meraihnya. Di bawah sorotan boh lam yang sedikit meredup aku meratapi nasib pada selembar ijazah dan transkrip nilai yang tertoreh nilai biasa-biasa saja: nilai yang cuma cukup untuk melamar menjadi seorang hansip di kampung calon mertua. Aku merasa depresi tingkat dewa dan itu kurasakan selama berhari-hari.
Pagi ini aku bangun tidur masih dalam keadaan dan nasib yang sama. Masih menjadi Pengacara (Pengangguran Tiap Acara). Karena nasibku belum juga berubah, hingga di suatu pagi aku memutuskan untuk menghibur diri dan dunia kesenianlah yang akhirnya menolongku.


"Get the hell are here, you sit on my chair!!"




Share:

Alimnya Tingkah Polah SPG di Aceh

Hanya di Aceh anda akan menemukan sekawanan SPG (Sales Promotion Girl) mengucapkan "Assalamualaikum" saat mendatangi tumpuk demi tumpuk kerumunan orang yang nongkrong di warung kopi untuk menawarkan racun (baca-rokok) keluaran terbaru. Dalam kondisi tubuh setengah menungging mereka meminta sedikit waktu pada para jamaah warung kopi, "Assalamualaikum, permisiiii." Ucapan itu terdengar yang dibarengi dengan kulum senyum lima senti kiri lima senti kanan dari bibir sexy bergincu menyala yang aduhai membekas di hati. Lalu dengan sedikit menunduk, "Aabang perokok? Oya, ini kami lagi ada produk terbaru bla, bla, bla.. terimakasih bang, permisiii.!" Begitulah gambaran umumnya.
Ilustrasi photo: Temuan dari Internet
Ya, fonemena di kehidupan berpolitik sekarang juga demikian, untuk membuat orang lain mau menerima sesuatu yang buruk, akan lebih cepat diterima dan didengar orang banyak kalau sekiranya sesuatu yang buruk itu dibungkus dengan kata-kata terpuji bin mulia, apalagi menyebut-nyebut nama Tuhan. Memulainya dengan mengucapkan kata-kata yang terpuji, semisal bismillah (pokoknya kata-kata yang ada llah-llah-nya diujung), atau mengekploitasi ayat-ayat Tuhan dalam membuat penciteraan politik.
***
Usai menawarkan produk dan melakukan promo rokok, para SPG jelita itu berlalu dengan meninggalkan bau tubuh yang harum dan beberapa potong senyum yang susah dilupakan oleh lelaki tulen. Hingga membuat para pengunjung warungkopi melongo seiring para SPG itu jalan melenggak dengan sepatu haknya, menuruni tangga demi tangga warung yang hanya tiga tangga saja, lalu masuk dalam mobil. Kehadiran mereka benar-benar membuat yang beristeri lupa sama bini, yang berpacar lupa sama doi. Tapi nuansa itu durasinya hanya sesaat, semuanya hilang setelah mobil yang membawa para SPG melesat membelah jalan kembali ke sarangnya.
Share:

Belajar Mendeskripsi

Di seputaran Darussalam-Banda Aceh ada satu lapak jualan tempe goreng paling enak menurut saya. Yang jualannya itu bapak-bapak, biasanya dalam berjualan si bapak ditemani seorang bocah laki-laki yang dipercayakan sebagai kenek. Menurut saya, tempe goreng hasil racikan bapak ini mampu menggantikan cemilan anda dari yang biasanya, ya kalau memang cemilan yang anda gemari selama ini tempe goreng bukan yang lain. Mungkin anda sudah terbiasa dengan memakan tempe goreng yang wujudnya seperti kerupuk, kaku dan terdengar seperti jembtan kayu lapuk yang hancur ketika dikunyah. Tapi kalau yang ini tidak, bisa saya pastikan yang anda kunyah memang benar-benar potongan tempe goreng renyah. Pastinya tidak akan membuyarkan konsentrasi anda ketika mengunyah untuk berpikir; oh ini kerupuk tapi versi tempe. Oya lokasi bapak berjualan di seputaran Darussalam; kalau dari arah simpang galon, itu sebelum Bank BRI cabang Darussalam.

Tetapi ini hanya sebuah gambaran atau ilustrasi betapa rasa puas atau kesan itu mampu mendorong seseorang untuk berbicara banyak dan jujur-jujuran. Bapak penjual tempe tidak meminta dan membayar saya untuk mempromosikan lapak gorengan tempenya lewat postingan ini. Bagi saya tempe goreng racikan si bapak enak, renyah dan saya merasa terkesan dengan cita rasanya. Itulah yang mendorong saya untuk menulisnya.

Ilustrasi lain. Mungkin semenjak media sosial Facebook booming dan akrab dengan pengguna internet, tentunya anda sudah pernah atau bahkan sering membaca postingan-postingan yang berisikan testimoni orang-orang yang bahagia setelah melangsungkan pernikahan. Mari kita lihat lagi betapa kekuatan rasa dan kesan itu mampu mendorong seseorang untuk berbicara banyak dan jujur. Coba kita lihat orang-orang yang bahagia dan merasa terkesan dengan pernikahannya itu. Dengan tanpa diminta dan tanpa kita traktir kopi untuk diajak bicara, salah seorang dari mempelai mau berbagi cerita panjang lebar dan detail tentang kronologis pernikahan mereka sejak niat melangsungkan pernikahan mau direncanakan hingga setelah hari H. Yang mungkin kalau salah seorang mempelai kita ajak ngopi sambil bercerita, mungkin tiga jam waktu kita habiskan di warung kopi belum tentu bisa kita peroleh sebuah cerita, jujur-jujuran dan pengakuan yang begitu runut. Saya menemukan beberapa tipe orang yang pendiam sebelum menikah dan berubah menjadi tipe pengomong (di medsos) setelah baru-baru melangsungkan pernikahan karena sebuah kesan.

Oleh karenanya hati-hatilah dengan rasa dan kesan yang, dia mampu mendorong seseorang untuk buka mulut dengan tanpa diminta apalagi dipaksa-paksa. Saya menulis tentang tempe goreng karena saya sudah kelewat puas dan merasa terkesan dengan hasil racikan tempe goreng yang renyah, bikinan bapak yang buka lapak di pinggir jalan Darussalam. Ini menandakan saya belum mampu mengendalikan rasa, hingga kekuatan (kesan) tempe goreng renyah saja mampu mendorong saya untuk berbicara banyak tentangnya (tempe goreng)
Share:

Makna Warung Kopi di Aceh

Keberadaan warung kopi di Aceh mempunyai tempat istimewa di setiap relung hati para pengunjung warung kopi langganan masing-masing. Fenomena menjamurnya warung kopi dan banyaknya para jamaah warung di Aceh tidak boleh dilihat sinis dikarenakan warung kopi sudah menjadi tempat mengambil kembali semangat atau ruh seorang manusia yang barangkali masih tercecer di atas tempat tidur dari semalaman. Duduk di warung kopi merupakan proses meditasi sambil minum-minum dalam memanggil kembali semangat hidup untuk menantang hari ini.

Jep Kupi Nak Bek Pungoe
Minum Kopi Supaya Tidak Gila
Pagi hari, tak terkecuali baik pemuda maupun orang tua, berseragam atau tidak, yang pekerja kantor maupun pengangguran, seiring matahari merangsek naik mereka keluar menuju warung kopi langganan masing-masing guna menenggak segelas cairan kopi yang ditemani beberapa kerap roti selai dan penganan-penganan lain. Aktivitas yang beginian di Aceh dinamakan "Ngopi". Ngopi tak berarti setiap orang yang duduk di warung kopi semuanya akan menenggak dan cairan yang berisi kopi. Ada juga yang menenggak teh, teh hijau, dan minuman lain, level paling tinggi menenggak es kosong. Lalu kenapa harus istilah Ngopi? Kata ngopi sudah lebih dulu memonopoli warung kopi di Aceh. Sama seperti air mineral bermerek 'Aqu*' lebih dulu memonopoli pasar. Di Aceh, mau sampeyan beli air mineral apapun sampeyan akan menyebut merek tersebut, karena kalau tidak yang punya kios akan bingung. Di warung kopi, mau ada minum atau duduk nikmatin wifi gratis gak minum apa-apa, sebutannya tetap lagi ngopi.

Orang-orang di sini, sambil mereka ngopi pagi ada banyak sekali hal yang sering mereka lakukan di warung kopi. Semisal melanjutkan diskusi final AFF semalam yang sempat terpotong akibat yang punya warung mengusir mereka pulang karena mau tutup. Nah ngopi pagi dimanfaatkan kembali untuk menyambung obrolan soal kemenangan timnas Indonesia atas Thailand. Bagi yang penggila aksi tikang-tikung Moto GP, mereka bergantian berkomentar soal momen-momen cantik yang terjadi di sirkuit balapan paling bergensi itu. Bagi yang bermental optimis dan keseringan ngikutin tayangan motivasi di TV yang bertemakan: Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini/ Nothing Impossible; Buat mereka yang golongan ini, mereka asik berandai-andai, berangan-angan mungkin tidak ya kita akan mendengarkan lagu Indonesia Raya bergema di piala dunia?

Warung kopi akan menjadi tempat yang religius ketika para pengunjungnya berbicara tentang agama, fanatisme, aksi bela islam jilid sekian atau 212. Menjadi panggung pertunjukan ketika warung tersebut banyak diisi oleh para pekerja seni dengan berbagai aliran seni. Warung kopi di Aceh serasa gedung DPRA dan para pengunjungnya adalah para anggota dewan ketika di warung itu banyak orang (syik putik tuha muda) bicara bicara soal kebijakan-kebijakan politik sampai mengernyit jidat, tegang urat leher karena bertekak terkait jagoan politik masing-masing. Membuka obrolan seperti; soe yang harus ta toep kali nyoe/ siapa yang harus kita coblos kali ini kerap kali menjadi basa-basi perjumpaan ala warung kopi. Atau saat mereka coba "menggariskan" peta politik jelang Pilkada Aceh, maka warung itu sudah menjadi tempat office center-nya para tim pemenangan jagoan politik yang maju dalam kontestasi politik di Aceh.
Share:

Nonik


Sumber photo: Acehtrend


Cerpen ini sudah pernah dimuat di situs berita online: Acehtrend edisi Sabtu/ 29/04/2017.

Dua bulan sudah hidup menjanda, ibu si Nonik kembali mendapat ujian berat, pasalnya anak gadis semata wayang pergi meninggalkannya menghadap yang Maha Kuasa. Setelah sebelum itu Tuhan juga telah mengajak pergi suaminya, Badrun pergi ke tempat yang sama. Ibu si Nonik belum begitu ikhlas menerima kenyataan atas dua ujian berat tersebut, terlebih lagi setelah kepergian anak gadis satu-satunya itu yang bernama lengkap Nonik Manik. “Tidak Rela” itulah dua kata yang tergambar dari keseharian ibu si Nonik yang menjalani hidup tak bersemangat dan berwajah murung juga pucat pasi. Hingga suatu ketika, sikap ketidakrelaan yang melekat kuat pada ibunya membuat mendiang Nonik Manik yang telah tiada merasa diusik di tempat peristirahatan sana.
“Nikahilah dia untukku, Bu!”
Kalimat itu yang terus membayangi ibu si Nonik. Ini bukan pertama kalinya Nonik Manik meminta hal yang sama. Sudah berminggu-minggu permintaan itu dia sampaikan pada ibunya. Namun, belum juga diperoleh jawaban yang pasti dari sang ibu. Padahal permintaan serupa juga telah disampaikan Nonik dengan penuh harap pada seorang lelaki. Ya, permintaan yang serupa. Nonik juga meminta lelaki itu untuk menikahi ibunya. Namun alhasil masih saja sama, lelaki itu pun tidak memberikan jawaban sampai hari ini. Dia masih menimbang-nimbang soal serius atau tidak permintaan itu.
Bagaimana tidak, ini permintaan yang sangat sulit diputuskannya. Permintaan bahkan datang dari orang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Nonik Manik memintanya untuk menikahi ibunya. Ini sedikit membingungkan bagi lelaki yang kesehariannya menghabiskan waktu di bengkel sepeda motor. Menikah lagi bukan lah perkara yang mudah, terlebih wanita itu adalah ibu si Nonik. Mesti berpikir lebih dari seribu kali untuk mengambil keputusan. Ini sungguh sangat membuatnya bimbang. Permintaan itu antara nyata atau tidak, jelas telah benar mengusik ibu Nonik dan lelaki pekerja bengkel.
“Permintaan ini sungguh nyata, Bu!”
Nonik Manik kembali lagi dengan penegasan yang lebih tegas. Seakan-akan dia tahu benar bahwa ibunya dan lelaki bengkel itu masih menyimpan kebingungan yang luar biasa. Namun, semakin tegas dia berucap, maka semakin dalam kebimbangan tertancap. Baik ibu maupun lelaki bengkel itu sama sekali tidak pernah terbayang akan permintaan Nonik. Itu jelas permintaan konyol. Andai sekali waktu mereka diizinkan bercakap secara nyata dengan Nonik, maka pasti perihal permintaan itu akan dipertanyakan kembali sampai tuntas. Hingga kemudian tidak ada kebingungan yang membekas. Tapi apa hendak dikata. Takdir belum mengizinkan, atau memang tidak pernah. Nonik yang akhirnya hanya berani datang sesekali untuk mengajukan permintaan yang itu-itu saja. Nonik manik entah tidak menyadari atau sengaja membiarkan ibu dan lelaki bengkel itu dalam penderitaan yang tak berkesudahan. Penderitaan bersebab mereka telah kehilangannya, dan kemudian penderitaan bersebab permintaan yang sama sekali tak masuk akal.
***
Tampak sumbringah di dua wajah. Wajah sepasang pengantin yang sedang duduk di atas singgasana. Ya, ini hari bahagia memang, hari bahagia bagi mereka berdua dan semoga saja menjadi hari bahagia bagi siapa saja. Sepasang pengantin itu tampak benar-benar bahagia. Mereka terus saja menyalami setiap tamu dengan senyuman yang tiada putus. Beberapa mahkota menyemat indah dan terususun rapi pada sanggul pengantin perempuan. Sedangkan kopiah meuketob gagah perkasa di atas kepala pengantin laki-laki. Ini pasangan dunia-akhirat yang telah disandingkan di pelaminan. Beberapa tamu berebut foto demi berbagi kebahagiaan. Alunan musik terus menemani dengan sesekali diselingi gelak tawa tetamu. Dan dari pintu itu, ibu si Nonik penuh bahagia menatap pasangan pengantin. Senyum berkali-kali tersungging dari bibirnya. Bahagia benar ia, bahagia bukan buatan.
Belum habis bahagia yang tampak dari setiap raut wajah, kini pemandangan aneh disuguhkan dari setiap sudut ruangan pesta ini. Bagaimana tidak? Dalam satu kedipan mata, tiba-tiba saja ada yang berubah. Ini aneh, benar-benar aneh. Pengantin itu sudah tidak lagi berada di singgasana. Sepasang pengantin beserta singgasananya telah roboh, hancur berantakan. Mereka semua tergeletak di lantai berbalut dengan lumpur hitam pekat. Nyaris tidak dikenali siapa pemilik wajah. Pengantin perempuan tak tampak lagi mahkotanya. Pelaminan yang lengkap dengan riasan kini tak lagi berbentuk. Masih dari pintu itu, ibu si Nonik menatap semuanya dengan penuh keheranan dan menggigil ketakutan.
Sebelumnya senang, kini berubah menjadi kesedihan, ia putus asa. Bercampur aduk perasaannya. Kesedihan bertambah ketika ibu si Nonik menyadari bahwa di antara semua tubuh-tubuh manusia yang tergeletak, pengantin pria masih tegak berdiri dalam keadaan ketakutan menyaksikan semuanya, sama seperti ibu si Nonik. Hingga akhirnya, tatapan pengantin pria dan ibu si Nonik bertemu. Ada gurat kesedihan di antara keduanya. Ada kesedihan mendalam yang tak dapat diceritakan. Ada beribu-ribu perasaan yang membuncah, namun tak kunjung pecah. Hingga bungkam adalah pilihan.
***
“Mimpi itu lagi, Nak! Datang berkali-kali dalam rupa yang sama!”
Sekali waktu di pagi hari, ibu si Nonik masih sedang menyapu daun-daun jambu dan daun-daun belimbing yang jatuh menimpa tanah halaman rumahnya. Memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk menutup muka tanah halaman yang tidak begitu luas ini. Batang jambu ini, dulu waktu Nonik kecil sering benar ia memanjatnya meskipun beberapa kali jatuh dan terluka.
Lamunan tentang batang jambu dan Nonik terjatuh itu kemudian diluruhkan oleh kemunculan lelaki itu. Laki-laki bertubuh tinggi besar, perut rata, berkulit tidak begitu gelap dan berkumis itu melintas dengan sepeda motornya di depan rumah ibu si Nonik, dia sedang menuju ke bengkel tempatnya bekerja. Bengkel yang letakknya berdempetan dengan rumah ibu si Nonik. Sesampai di lokasi, lelaki itu masuk lalu kembali keluar dari bengkel untuk melepaskan satu persatu jejeran papan persegi panjang yang berdiri saling terkait satu sama lain di bagian depan bengkel, kemudian tersenyum sekali pada ibu si Nonik. Si ibu yang sedari tadi menatap ke arahnya juga membalas dengan senyuman takzim. Ada gurat iba di antara keduanya. Ada kisah kesedihan pada keduanya. Ada kisah-kisah sedih yang kemudian tak mampu dibicarakan. Tak mampu untuk dikisahkan. Hingga keduanya kemudian lebih memilih bungkam. Dan di tengah kebungkaman itu, keduanya tersentak, seakan teringat pada sesuatu. Ibu si Nonik kembali menatap lelaki itu dengan potongan kenangan yang tiba-tiba hinggap di kepala. Lelaki itu pun sama. Ia menatap ibu si Nonik seperti teringat pada satu peristiwa yang sudah saling tahu: Mimpi.
Tak lama setelah itu, ibu si Nonik memilih untuk masuk ke dalam meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan beberapa potong kenangan pada batang jambu. Sedangkan laki-laki itu memulai aktifitas perbengkelannya dengan beberapa kenangan yang tetap melekat di kepala.
***
“Jangan pernah alihkan pandanganmu darinya, Bu! Demi aku.”

Potongan-potongan percakapan yang sering dititipkan Nonik pada ibunya melalui mimpi sungguh menguncang jiwa. Ibu si Nonik kini terduduk lemas pada sandaran ranjang. Mimpi-mimpi itu terus saja hadir pada setiap tidurnya. Membangunkan ibu si Nonik sebelum waktunya. Jika sudah begini, ibu si Nonik hanya mampu mengelus dada dan menghela napas panjang dan amat berat. Lalu keluar rumah untuk menyapu, ini rutinitasnya setiap pagi.
Seperti sebelumnya, ibu si Nonik kembali menyapu halaman rumahnya. Dan dari sanalah dia menatap laki-laki bengkel itu dengan penuh hasrat. Laki-laki yang sejatinya jauh lebih muda darinya. Laki-laki yang sepantasnya menjadi anak. Tapi, mimpi Nonik dan pesan yang disampaikannya melalui mimpi itu sungguh sangat mengganggu.
Masih dari pandangan ibu si Nonik, lelaki bengkel itu terus fokus pada pekerjaannya. Beberapa baut dicabut dari dudukan lalu dipilin-pilin, baru setelahnya dipasang kembali. Di antara aktivitas pilinan biji-biji baut itu beberapa kali pikiran nakalnya merasuk. Lelaki bengkel coba mengusir rasukan itu dari dalam pikiran dan lamunannya. Hingga beberapa kali sepeda motor digas dengan kencang dan meraung-raung. Namun, itu sama sekali tidak meluruhkan apa yang sudah merasuk di pikirannya, ya atau mungkin juga sedang merasuk di dalam diri ibu si Nonik. Hingga dalam kondisi yang demikian, lelaki bengkel itu bangkit dari tempat duduk. Menatap tajam ibu si Nonik dengan penuh pesan yang ingin disampaikan. Ibu si Nonik tak tahu cara yang tepat menangkap pesan itu. “Pesan yang samakah? Pesan yang disampaikan Nonik, kah?” hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang terbesit dalam pikiran si ibu.
Dalam kebingungan dan saling terka-menerka yang demikian itu, lelaki bengkel terus saja melangkah menuju ke arah ibu si Nonik. Ada rasa rindu menggebu-gebu di matanya. Ada rasa cinta yang baru mampu muncul setelah mematahkan berbagai pahitnya kenangan. Ada serupa kebahagian bersebab melihat perempuannya yang lama pergi kini kembali. Begitu juga dengan ibu si Nonik. Kebimbangan perlahan-lahan hilang. Putus asa berubah jadi lain rasa. Dan ketika dua telapak tangan kasar lelaki pekerja bengkel itu menyentuh bahu ibu si Nonik, serta-merta seakan-akan bayangan sosok isterinya Nonik melekat di ibunya. Kerinduan pada Nonik yang pergi akibat gulungan air bah,kini seakan terbayar. Bayangan tubuh Nonik yang terkulai dengan baju pengantinya yang telah berbalut dengan lumpur itu sirna.
Dalam tatapan ibu si Nonik hanya tampak wajah seorang lelaki bengkel bertelapak tangan kasar. Tatapan bertemu seperti waktu itu, ketika ibu si Nonik melihat pengantin pria tetap gagah berdiri di tengah-tengah tubuh Nonik dan para tetamu lain tergeletak berbalut lumpur. Sedangkan dalam tatapan lelaki itu, tampak Nonik yang telah kembali ke pangkuannya. Sosok wanita yang amat dirindukannya. Wanita yang pergi meninggalkannya bahkan dengan masih menggunakan baju pengantin.
Di luar kesadaran masing-masing, lelaki bengkel masih berdiri tegak di depan ibu si Nonik. Sedangkan si ibu juga masih menatapnya dengan tatapan yang entah, mungkin nakal? Hingga akhirnya, kaki mereka menuntun masuk ke dalam rumah yang sepi. Sedangkan di luar, angin sepoi-sepoi berhembus dengan gemulainya, membawa terbang beberapa daun belimbing kuning layu, hilang entah kemana.
“Jagalah lelakiku seperti lelakimu, Bu!” Ibu si Nonik seperti mendengar samar-samar bisikan Nonik di dalam dirinya
Lalu ia membatin, “Inilah akibat teramat mencintai dan tak ikhlas melepaskanmu, Nak.”

Di luar sana, tepatnya di bagian belakang rumah ibu si Nonik yang berdekatan dengan semak belukar, terdapat segerombolan bocah tengik sedang berjalan, mereka mengalungi leher masing-masing dengan cabang ketepel siap pakai. Ya, peralatan tempur para pejuang di bumi jajahan kaum zionis itu. Berkali-kali para bocah tersebut menghajar kawanan beburung yang hinggap di pokok-pokok kayu, tapi berkali-kali juga bidikan para bocah meleset, hingga peluru-peluru ketapel itu menyasar dan menghujani atap rumah ibu si Nonik.
Keduanya terperanjat.

“Astagfirulloooh!!”

Penulis Munawar, penikmat seni peran, anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP-Aceh) dan alumni Muharram Journalism College (MJC) jurusan televisi 
Share:

Menagih Jawaban


H. M. Nasir bin Abdul Wahab
(Almarhum, Jumat, 25 September 2020)


Jauh beberapa tahun setelah kuburan kakek dan nenekku kering, di waktu yang lain aku mencoba membujuk ayah supaya diceritakan kisah perjuangannya dalam menundukkan tantangan untuk tidak sekolah akibat ejekan, cemoohan dan ledekan orang-orang yang belum begitu mengenal peradaban pada saat itu. Setelah satu jam lebih aku duduk bersama ayah aku berhasil mengantongi beberapa catatan yang menjadi bagian dari kisah perjuangannya seperti yang sedang kutulis sekarang ini.

Aku mengulangi kembali pertanyaan yang pernah kutanyakan pada kakek semasa hidup beliau, menyangkut rasa penasaranku: Bagaimana ceritanya orang dulu itu cepat sekali diangkat jadi pegawai negeri? Orang dulu yang kumaksud termasuk ayahku. Pertanyaan yang singkat tersebut ternyata menghasilkan jawaban yang panjang dari ayah, hingga aku berpikir memilih menulisnya lebih bagus. Hmm, mungkin karena aku membuka obrolan dengan menggunakan perbendaharaan kata “ Bagaimana Ceritanya?” jadinya ayah bercerita sekarang.

Semasa ayahku dulu belum ada yang namanya seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Ketentuan hukum alam yang berlaku pada zaman dahulu kala itu adalah, bagi siapa saja yang rajin sekolah, nanti setelah mereka tamat mereka langsung akan diangkat menjadi pegawai negeri, dulu sebutannya peugawe (dalam bahasa Aceh). Ayahku beruntung dikarenakan jumlah guru masih sangat sedikit. Dan pada saat itu juga minat orang yang mau sekolah juga sangat kecil. Menurut pandangan beliau, kalau dilihat-lihat ketekunan anak-anak sekarang, termasuk kita-kita ini yang kuliah. Sekiranya anak muda kayak kita hidup di masanya dulu, mungkin kita sudah diangkat jadi PNS atau bahkan lebih dari itu, jadi kepala dinas pendidikan lebih kurangnya

Sekolah di era ayahku atau ayah kalian juga banyak sekali tantangannya. “Coba kamu bayangkan saja,” kata ayahku di suatu malam saat kami sedang menikmati dua piring nasi goreng masak kampung di pinggir jalan kota, “ tiap pergi ke sekolah ayah  harus berjalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo meter. Saat itu angkutan jenis labi-labi belum ditemukan,” Sejenak ayah berhenti bercerita, setelah menelan kemudian beliau memanggil salah seorang pelayan warung makan untuk memesan minuman: Jus Alpukat.


Sedang menikmati makan malam di pinggiran jalan kota

Lalu setelahnya ia melanjutkan cerita, “Dan jalan yang harus ayah lewati (ayah berpikir) itu pun tak layak disebut jalan, besarnya hanya dua kali diameter ban vespa temanmu yang anak motor itu.” Aku tergelak mendengar kata vespa karena yang terlintas adalah seekor hewan dalam bahasa Aceh "baneng" (alias kura-kura). Sembari berpikir diantara suara bising kenderaan yang berlalu lalang di jalana kota, “Kok perumpamaannya ban Vespa sih yah, kenapa gak yang lain.”  
Orang-orang yang pergi sekolah pada zaman dulu belum bisa menikmati jalan aspal bikinan pemerintah seperti sekarang ini, yang ada hanya jalan yang membelah antara padang ilalang. Dikatakan demikian dikarenakan dari rumput-rumput ilalang itu jalan setapak terbentuk. Proses terbentuknya, karena ilalang sering diinjak oleh beberapa anak yang sering pulang pergi sekolah, maka rumput tersebut pun terhambat proses tumbuhnya, lama-lama mati. Dan lamban laun karena sudah terlampau sering diinjak menjelmalah ia menjadi jalan setapak.

“Tahunan lamanya ayah merasakan siklus perjuangan ke sekolah yang seperti itu. Bisa dibayangkan, mulai dari Madrasah, Tsanawiyah, Aliyah (Pendidikan Guru Agama) dan seterusnya.” ayah bersemangat sekali bercerita.

Tapi yang namanya perjuangan itu, teman, seberapa pun pahitnya ia yang namun tidak akan pernah mengkhianati hasil. Hingga pada suatu waktu, tepatnya setelah beliau menamatkan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan melanjutkan study satu tingkatan lagi di sekolah Pendidikan Guru Anak Berkebutuhan Khusus di Jogja. Setelah selesai dari sana barulah apa yang tidak pernah diduga oleh kakek, terjadi. 

Entah waktu itu masih gak cukup guru atau memang lagi masa-masanya penjaringan guru, ayah tidak bisa memastikannya. Saat itu beliau belum kenal sama emak, tahu pun juga enggak apalagi sampai jumpa. Ingatannya sangat kuat hingga sekarang masih diingatnya. 
Kala itu, bangsa Indonesia belum begitu maju, terlebih lagi di pedesaan Aceh. Tepatnya saat di kampung kakek baru-baru siapnya musim panen hasil sawah ladang, di akhir bulan Agustus. Besoknya di minggu pertama memasuki bulan yang baru, menjelang siang, dengan transportasi masih mengandalkan mobil gosoan yang bentuknya memang seperti gosoan jadul, beliau disuruh menghadap ke kantor dinas.

Cara pakai gosoan jadul tersebut, mulanya dibuka bagian tutup atasnya terlebih dulu hingga miring seperti bak mobil truk pengangkut pasir yang mau menumpahkan isi, sebelum gosoan tersebut diisi arang untuk dipakai. Lalu kenapa perumpamaan alat transportasi jenis jadul itu disamakan dengan gosoan? Ya karena di kampung-kampung nama mobil gosoan sempat melekat pada jenis transportasi yang yang satu ini.

Karena menu makanan pinggir jalan tidak kalah enaknya dengan restoran di Kutaraja, jadinya proses kita makan pun sangat pelan, alibinya kami sangat menikmati santapan malamnya. Dan cerita perjuangan pun belum kunjung selesai, “Nah lewat perantara mobil gosoan itulah, di pagi  bulan September ayah disuruh menghadap ke kantor Dinas Kabupaten. Singkat kisah, selang beberapa hari setelah pemanggilan diangkatlah ayah sebagai peugawe (guru), tapi penempatannya jauh dari kampung halaman..” Perjuanagan ayah tak berhenti sampai ia diangkat menjadi pegawai. Terutama terkait dengan hal penaklukkan jarak tempuh yang masih terkendala trnasportasi, ayah masih harus banyak-banyak berdamai dengan keadaan yang demikian. Tapi semangatnya mengabdi tak surut, tidak menurun sepersenpun sama seperti saat ia sekolah dan harus menaklukkan jarak dengan jalan kaki yang jauhnya sejauh mata memandang.


Pada masa-masa awal berbakti, baju warna cokelat berlogo pancacita itu belum ada, karena ketentuan berseragam belum seperti sekarang dalam menjalani menjalani hari-hari dinas. Seringnya beliau mengenakan kemeja biasa berlengan panjang rapi hasil setrika pakek gosoan arang jadul itu. Sesekali kalau ada perkara penting beliau membalut tubuhnya dengan safari seperti miliknya bapak si Ikal ‘Sang Pemimpi’ yang dipakai saat mengambil rapor Ikal di sekolah Muhammadiyah, Manggar, di Provinsi Belitong sana.


***
Kesiapan hati dalam menghadapi cemoohan, ledekan dan nyi-nyiran orang-orang seangkatan yang tak berniat sekolah, menjadi tantangan tersendiri bagi siapa saja yang memutuskan untuk bersekolah pada saat itu. Mau tahu apa "menu" dari teman-teman seusianya dalam menjadikan ayah dan kawan-kawan sebagai bulan-bulanan. Ini menunya: Kata mereka buat apa sekolah? Guru kana goeb/ Guru sudah ada, Teungku Peutua kana goeb/Teungku Peutua (selevel pengurus surau), Bupati kana goeb/ Bupati sudah ada, dan Gubernur pih kana goeb, Gubernur pun kita sudah punya, jadi kupue loem jak sikula, jadi buat apalagi kita sekolah. Hari ini gerombolan orang yang kerap kali meledek anak-anak sekolah itu, syukur Alhamdulillah mereka masih hidup, dan sampai tak jadi siapa-siapa. Hanya statusnya saja yang sudah berubah karena sudah kawin, memiliki anak isteri yang diakui negara.

Kerja mereka dulu, saat waktu masih pagi-pagi sekali, mereka biasa terbengong di tepi sungai, duduk mengurung diri dengan kain sarung yang sudah kaku, melihat air sungai yang mengalir, bersama lamunan mereka yang juga ikut mengalir perlahan menuju muara. Terbengong-terbengong melihat akik-akik di kampung yang memberi minum kerbau dan sapi (dalam bahasa Aceh, perbuatan ini disebut "jak ba ie kubue-leumo"). Mereka para petantang-petenteng itu baru beranjak dari tepi sungai saat matahari sudah sepenggelahan naik, itu pun pulang ke rumah masing-masing buat melanjutkan tidur yang terputus akibat kena siram pas bangun subuh.

Sekiranya dulu ayah dan kawan-kawan berani menjawab ocehan mereka, mungkin beliau akan melayaninya seperti ini; Hai Tuengku apa, Guru, Tuengku Peutua, Bupati dan Gubernur nyan, saboeh saat akan mate geuwoe bak Tuhan, dan tanyoe-tanyoe nyoe keuh na jak sikula yang jeut keu peugantoe posisi awaknyan. Jika diterjemahkan: Duhai mas bro, Guru, Teungku Peutua, Bupati, dan Gubernur itu suatu saat mereka akan mati pergi menghadap Tuhan pemilik langit, dan kita-kita yang pernah sekolah inilah yang menggantikan posisi mereka.

***
Dulunya beliau juga seorang perantau semasa masih melanjutkan sekolah ke tanah Jogja. Semasa di perantauan, ayah juga punya sharing cerita yang panjang, tapi kupenggal sampai disini saja. Semisal dalam urusan menunggu kiriman, beliau sampai harus menunggu berminggu-minggu lamanya sebelum kiriman uang dan logistik sampai dari kampung (keluarga) petani. Saat itu rekening Bank belum begitu masyhur apalagi kotak ATM, kotak ajaib yang ketika tubuhnya digesek secara magis ia akan memuntahkan lembaran-lembaran uang. Mana ada yang begituan saat zaman masih mengandalkan jasa pak pos, bukan seperti pak pos kilat sekarang. Untuk menunggu kiriman, misalkan awal Januari ayah mengabari keluhannya ke kampung halaman soal logistik dan amunisinya yang mau habis, baru di penghujung Januari kiriman uang seadanya dan beras hasil sawah garapan kakek-nenekku sampai ke Jogjha, tepatnya ke Kulon Progo. Karena beratnya perjuangan seorang ayah, makanya setiap hari kuperingati itu dalam tulisan ini apa yang sering digaung-gaungkan oleh manusia modern sekarang: Selamat Hari Ayah.

Photo Perwakilan Kulon Progo Zaman Dulu Yang Sudah Hilang Photonya


**********************Selesai



Kenangan ibadah haji almarhum semasa hidupnya, semoga mendapat haji yang mabrur, Amiin.




Share:

Recent Posts

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.

Pages